Menggapai Makrifat dengan Sembah Catur (Bagian II)

Istilah makrifat berasal dari kata ma’rifah, yang dalam Bahasa Arab artinya ‘tahu’ atau ‘pengetahuan’. Di dalam konteks tasawuf, makrifat berarti ‘tahu, paham, dan sadar tentang eksistensi ketuhanan’.

Artinya, orang yang sudah bermakrifat berarti tahu tentang ilmu ketuhanan, paham dan yakin dengan setiap simbol dan fenomena ketuhanan, serta punya kesadaran dalam aplikasi (amaliyah) sehingga merasa selalu bersama Tuhan.

Makrifat atau makripat adalah derajat tertinggi dari empat derajat dalam tasawuf. Keempat derajat tersebut adalah syariat (syari’ah), tarekat (thariqah), hakikat (haqiqah), dan makrifat (ma’rifah) sendiri.

Kali ini, kita akan mengupas seputar tarekat atau Sembah Cipta.

SebelumnyaMenggapai Makrifat dengan Sembah Catur, Bagian I

Menggapai Makrifat dengan Sembah Cipta atau Tarekat

Menurut artinya, tarekat (thariqah) berarti jalan kecil. Jadi, tidak semua kendaraan bisa melewatinya. Bus angkutan umum tidak bisa lewat, truk juga tidak bisa. Ini adalah jalan alternative bagi kendaraan kecil agar cepat sampai pada tujuan.

Bayangkan saja kita sedang berada dalam situasi perjalanan mudik lebaran. Dimana-mana jalanan macet karena volume kendaraan melebihi batas normal. Bagi pemudik yang menggunakan kendaraan umum tentunya tidak bisa berbuat apa-apa selain menikmati kemacetan dari dalam kendaraan. Demikian juga bagi pengguna kendaraan pribadi.

Nah, dalam kondisi seperti ini tiba-tiba saja ada jalan alternatif yang relatif sepi, tempat untuk melepaskan diri dari kemacetan sehingga cepat sampai ke rumah. Meski jalannya sempit, banyak orang ingin melalui jalan alternatif tersebut.

Begitulah gambaran tarekat, sebuah jalan yang tidak terlalu lebar, namun menawarkan kenyamanan karena relatif sepi sehingga tidak macet. Atau dapat diibaratkan seperti kereta api yang bebas melenggang tanpa hambatan.

Di dalam keyakinan Jawa, tarekat sama artinya dengan Sembah Cipta, yakni menyembah Tuhan melalui sarana cipta, yakni hati dan pikiran. Sembah Cipta atau Tarekat adalah kelanjutan dari Sembah Raga atau Syariat, jadi untuk masuk ke dalam praktek Sembah Cipta sebaiknya Sembah Raga-nya harus bagus terlebih dulu.

Di kalangan pesantren Jawa, dapat ditemui sebuah nasehat, “Sebaiknya menjalani tarekat itu kalau sudah berumur 40 tahun saja. Sebelum umur 40 tahun, sebaiknya memperkukuh syariat terlebih dulu.” Ternyata ini bukan sekedar nasehat karena untuk memasuki Sembah Cipta atau Tarekat bisa dilakukan sebelum umur 40 tahun, asalkan sudah siap secara mental dan tentunya sudah kukuh amalan syariatnya.

Samengko sembah kalbu

Yen lumintu uga dadi laku

Laku agung kang kagungan narapati

Patitis tetesing kawruh

Meruhi marang kang momong

Berikutnya, sembah kalbu

Jika berkesinambungan juga menjadi laku

Seperti halnya laku tingkat tinggi yang dimiliki raja

Ditandai dari munculnya kawruh (pengetahuan)

Untuk memahami Yang Mengasuh

(Serat Wedhatama, Pupuh Gambuh: 11)

Sembah cipta dapat pula disebut Sembah Kalbu atau menyembah Tuhan dengan sarana hati. Tahap pertama untuk masuk ke dalam sembah cipta ini adalah mengasah akal sehingga memiliki kawruh atau pengetahuan yang benar tentang makna ibadah. Pada Sembah Cipta, seseorang sudah tahu makna setiap gerakan ibadah yang dilakukan hingga pada kawruh tentang ketuhanan.

Sebagaimana ilustrasi perjalanan mudik tadi, seseorang yang menjalani tarekat atau Sembah Cipta adalah orang yang mudik naik kereta api sehingga terhindar dari kemacetan, atau naik kendaraan pribadi dengan melintasi jalan alternatif yang tidak terlalu padat, sehingga lebih cepat sampai di rumah.

Namun demikian, tidak semua orang bisa naik kereta api, dan tidak semua orang punya kendaraan pribadi sehingga bisa melintasi jalur alternatif. Sama halnya dengan jalan tarekat atau Sembah Cipta, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menjalaninya. Bahkan, jika dibandingkan antara mereka yang mampu dan tidak mampu, jauh lebih banyak mereka yang tidak mampu menjalaninya. Kenyataannya, hanya sedikit di antara pengamal Sembah Raga yang mau melanjutkan perjalanan ke arah Sembah Cipta.

Sucine tanpa banyu

Mung nyunyuda mring hardening kalbu

Pambukane tata titi ngati ati

Atetep telaten atul

Tuladan marang waspaos

Bersucinya tanpa air

Hanya dengan menahan nafsu di hati

Dimulai dengan perilaku tertib, teliti, dan hati-hati

Teguh, telaten, dan tekun

Sebagai jalan menuju waspada

(Serat Wedhatama, Pupuh Gambuh: 12)

Di dalam Sembah Raga, bersuci dilakukan menggunakan air, dengan tata tertib yang sudah diatur. Dalam tarekat atau Sembah Cipta, bersuci dilakukan dengan menahan hawa nafsu dan berzikir.

Begitu pula dalam hal shalat. Dalam tataran Sembah Raga, shalat adalah serangkaian gerakan tubuh yang dilakukan dengan aturan tertentu secara tertib. Namun dalam Sembah Cipta, shalat adalah menghubungkan diri dengan Tuhan, sebagaimana makna shalat (shallaa= menghubungkan diri).

batu giok pengasihan

Melalui bait Serat Wedhatama tadi, Sri Mangkunegara IV mengajak kita untuk menjalani ibadah tidak sekedar sebagai ritual jasmani saja, tetapi harus menjangkau ranah batin. Beliau juga mengingatkan lewat bait-bait sebelumnya bahwa meskipun kita sudah mampu menjalani ibadah batin (sembah cipta), namun jangan sampai meninggalkan ibadah lahiriah (sembah raga).

Ketika sudah berhasil menempuhi Sembah Cipta, akan muncul tiga kondisi hati, yakni heneng, hening, dan eling. Heneng lebih pada perasaan tenang, jauh dari kemarahan. Hening lebih menuju pada perasaan dan pikiran jernih, jauh dari kotoran. Eling adalah ingat dan sadar bahwa seseorang dalam kondisi Sembah Cipta selalu menyadari keberadaan Tuhan dalam dirinya.

Jadi Sembah Raga bukan ibadah yang hakiki sekedar sarana untuk dapat masuk ke Sembah Cipta. Meskipun dalam ranah ketuhanan, Sembah Raga sekedar perilaku simbolis, namun tidak boleh dikesampingkan karena hal tersebut memiliki makna simbolis dan bermanfaat jika dilakukan.

Menjalankan ibadah itu bukan sekedar mengejar kuantitas (jumlah) karena kualitas (mutu) itu lebih penting. Menjalankan Sembah Raga sebaik mungkin itu baik adanya, namun tidak perlu memaksa diri untuk memperbanyak jumlah ibadah kalau memang belum mampu. Kerjakan ibadah yang wajib dengan disertai upaya Sembah Cipta, yakni menghadirkan kesadaran untuk bisa tersambung kepada Tuhan.

Penegasan betapa pentingnya rasa ketersambungan terhadap Tuhan sebagai bagian dari unsur Sembah Cipta inilah yang menyebabkan organisasi-organisasi tarekat sejak dahulu memberikan porsi berlebih pada amalan dzikir. Mengapa dzikir? Sebab amalan ini adalah metode paling cepat untuk bisa menyambungkan hati kepada Tuhan.

Jika kita melatih diri untuk menyambung hubungan kepada Tuhan secara batin, perlahan-lahan kita akan masuk dalam suasana tumaluwung atau sayup-sayup, seperti orang yang berada antara tidur dan sadar. Suasana ini sangat nyaman rasanya sekaligus menjadi pertanda bahwa kita sedang menuju ke alam kesadaran ilahiah. Apabila kita terus berlatih untuk menghadirkan suasana seperti ini, pelan namun pasti kita akan masuk ke dalam suasana hati yang heneng. Kita bisa merasakan kedamaian, jauh dari kehendak untuk marah dan berada dalam keadaan mutmainah (tenang).

Membiasakan hati berada dalam kondisi tenang seperti ini maka pikiran pun menjadi hening (bening), jauh dari kotoran. Ini membuat tindakan kita dan sikap kita terkontrol dengan baik, tidak grusa-grusu. Kita akan tambil sebagai pribadi yang sareh (sabar). Hingga akhirnya akan muncul kesadaran permanen untuk selalu eling kepada Tuhan. Inilah yang digambarkan dalam Serat Wedhatama.

Sembah Cipta menjadikan jiwa sebagai objek utama. Tantangan terbesar yang dapat menggagalkan perjalanan dalam Sembah Cipta tentu saja hawa nafsu, terutama hal-hal yang berkaitan dengan duniawi. Sebagaimana penjelasan dalam Serat Wedhatama berikut ini:

Gagare ngunggar kayun

Tan kayungyun mring ayuning kayun

Bangsa anggit yen ginigit nora dadi

Marma den awas den emut

Mring pamurunging kalakon

Bisa gagal jika menuruti (nafsu) kehidupan

Tidak terpikat oleh keindahan hidup

Seperti membuat sesuatu kalau dipaksa malah tidak jadi

Maka awas dan ingatlah

Dengan hal-hal yang bisa menggagalkan

(Serat Wedhatama, Pupuh Gambuh:15)

Seseorang yang masih kamidonyanen (cinta dunia) akan sulit menjalankan Sembah Cipta dengan baik. Karena itu, mau tidak mau kita harus menyadari keberadaan dunia ini agar tidak terjebak di dalamnya.

Kehidupan dunia ini hanya permainan saja, bukan sesuatu yang sungguh-sungguh atau nyata. Sama halnya seperti saat kita sedang bermain sepak bola bersama teman-teman. Kita akan bermain dengan sungguh-sungguh agar bisa menang. Jika menang, kita akan tertawa senang dan jika kalah, kita akan sedih. Meskipun menang toh tidak menpat apa-apa, dan kalah juga tidak kehilangan apa-apa.

Begitulah hidup di dunia ini. Silakan serius menjalaninya, tetapi santai saja karena tidak ada menang dan kalah. Tidak ada yang perlu kita kejar atau kita tolak dengan membabi buta karena semua itu sekedar permainan. Hidup di dunia layaknya kita memainkan sandiwara di atas panggung.

Setiap orang memiliki peran masing-masing sesuai skenario yang sudah ada sehingga cukup bermain dengan baik saja. Kalau dalam sandiwara itu kita harus memerankan pengemis, ya bermainlah sebaik-baiknya. Tidak perlu ada rasa iri hati kepada pemain lain yang berperan sebagai juragan. Kalau terpaksa iri ya silakan, tetapi sedikit saja, sekedar penyemangat agar kelak bisa berganti peran menjadi juragan.

Hidup di dunia ini juga seperti perhiasan, sekedar aksesori. Kalau ada seorang wanita yang mengenakan gelang, anting, dan kalung dari emas, maka orang akan kagum kepadanya. Begitu pula wanita yang memakai make up menawan sehingga membuat wajah bertambah cantik. Para lelaki akan berdecak memandang.

Selama kita masih memiliki harga diri dan menjunjung martabat sebagai manusia, maka selama itu pula kita akan termasuk dalam kategori manusia wajar. Sebaliknya, kalau ada manusia yang memiliki kekayaan duniawi, tetapi tidak memiliki harga diri dan martabat, maka ia disebut sebagai orang gila. Gila harta, gila jabatan, gila pangkat, hingga gila dunia atau kamidonyanen.

Memahami hakikat dunia ini akan membantu kita untuk lebih mudah mengendalikan diri dari nafsu dan keinginan duniawi. Apabila dikembalikan pada keberhasilan Sembah Cipta, ini semua bermula dari keberhasilan mengendalikan diri dari godaan nafsu duniawi.


Konsultasi Seputar Hal Spiritual, Pelarisan dan Pengasihan, Dengan Ibu Dewi Sundari langsung dibawah ini :

Atau Hubungi Admin Mas Wahyu dibawah ini :