Filosofi Ilmu Padi dalam Ajaran Hidup Orang Jawa

Filosofi ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Orang yang pandai dan unggul akan rendah hati, tidak menunjukkan kepintarannya di hadapan orang lain.

Ajaran Hidup dalam Filosofi Ilmu Padi

Wit putusing sujana linuwih

Waskitheng tyas mawas kawasisan

Tan kawistara semune

Samun nanging mangimpun

Animpuni kagunan sami

Marma ywa kawistara Ing pamawasipun

Den samar met moring rahsa

Rarasing reh dene manis masmu aris

Manawa kawanguran

Sebab orang pandai yang unggul

Telah memiliki kemampuan melihat kemahiran orang lain

Tak terlihat pada raut mukanya

Tampak sepi tapi menghimpun

Menguasai segala kepandaian

Maka dari itu jangan ketahuan

Dalam penglihatan orang lain

Ditutupi dengan perpaduan rahasia

Keselarasan tindakan baik dan tenang

Bila ketahuan orang lain

(Serat Nitisruti, Dhandanggula bait ke-27)

Mengenal Filosofi Ilmu Padi

Ngelmu pari tan saya isi tan saya tumungkul. Ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Seseorang yang pandai dan unggul, rendah hati tidak akan menunjukkan kepintarannya di hadapan orang lain, justru sikapnya tenang dan tindakannya selaras dengan apa yang diucapkan.

Jika kita selalu memupuk sifat rendah hati maka kita akan selalu menjauhi sifat sombong. Ibarat biji padi, ketika biji padi tumbuh semakin besar maka posisi dari padi tersebut akan merunduk. Ini menandakan padi mempunyai isi yang berkualitas dan besar, namun dia selalu melihat ke bawah. Maknanya, jika kita memiliki banyak ilmu, maka hendaklah selalu memupuk sifat kerendahan hati.

batu kecubung

Padi pun memiliki filosofi yang mendalam selain kerendahan hati, yaitu:

Hidupnya selalu fleksibel. Tanaman yang hidup di darat, misalnya jagung, kacang, kedelai, dan semangka, jika hujan lebat dan kebanjiran maka tumbuhan itu mudah mati. Akan tetapi padi mampu hidup di darat sekaligus di air. Sehingga ia bisa menyesuaikan dengan kondisi alam. Jika manusia mampu beradaptasi serta fleksibel dalam menyikapi kehidupan ini, maka ia tidak akan merepotkan orang lain.

Hidupnya kompak. Setelah bibit padi ditanam, dapat tumbuh dan berkembang biak menjadi 7 hingga 10 anak mengitari induknya. Setelah tumbuh selama tiga bulan, induk dan anak padi secara kompak menampakkan hasil. Jika yang satu menguning, maka dengan serentak pula ikut menguning padi lainnya, yang ada dalam satu petak sawah. Kekompakan sangat diperlukan dalam hidup berkeluarga maupun bermasyarakat. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Memberi manfaat dalam waktu singkat. Jika seseorang ingin memanen buah kelapa, maka ia harus menunggu selama lima sampai delapan tahun, sedangkan untuk memanen padi hanya dibutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Itulah sebabnya padi mampu memberikan manfaat dalam waktu singkat. Kita pun diharapkan untuk bekerja cekat-sceket, artinya bekerja dengan cepat dan tepat. Dengan kata lain mampu menerapkan efisiensi. Efisiensi inilah yang mendorong kita untuk bisa produktif.  


Konsultasi Seputar Hal Spiritual, Pelarisan dan Pengasihan, Dengan Ibu Dewi Sundari langsung dibawah ini :

Atau Hubungi Admin Mas Wahyu dibawah ini :