Kesenian Tradisional sebagai Sumber Ajaran Kejawen

Diantara sumber-sumber ajaran kejawen adalah karya sastra, seni tradisi, upacara adat, dan aneka simbol. Berdasarkan catatan sejarah, kesenian tradisional mulai muncul sejak era Majapahit ketika berada di bawah pemerintahan Hayam Wuruk.

Pada saat itu, tari lawak, dan pedalangan menjadi kesenian andalan di Majapahit. Bahkan sebagai raja, Hayam Wuruk terlibat dalam ketiga cabang kesenian itu. Di dalam seni tari, Hayam Wuruk memerankan tokoh Pager Antimun. Di dalam seni lawak, Hayam Wuruk memerankan tokoh Gagak Ketawang. Sedangkan dalam seni pedalangan, Hayam Wuruk menjadi dalang bergelar Tirtaraju.

Pada era Kesultanan Demak di bawah pemerintahan Raden Patah, kesenian tradisional Jawa bukan sekedar difungsikan sebagai klangenan di dalam istana, namun sebagai alat dakwah. Melalui Sunan Bonang, seni musik (gamelan) dan tembang dimanfaatkan sebagai alat syiar ajaran-ajaran Islam di lingkup masyarakat Jawa. Bahkan gelar ‘Bonang’ pada Sunan Bonang diambil dari salah satu nama alat musik Jawa (gamelan), yakni bonang.

Jejak Sunan Bonang diikuti oleh muridnya, yakni Sunan Kalijaga. Sebagaimana gurunya, Sunan Kalijaga di dalam melakukan syiar ajaran-ajaran Islam di masyarakat pula menggunakan alat musik (gamelan) dan tembang. Hal ini diharapkan agar dakwah yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga lebih menarik perhatian masyarakat Jawa.

Dalam perkembangannya, kesenian tradisional bukan hanya berada di dalam lingkungan istana, namun pula berada di luar benteng istana. Pengertian lain, kesenian tradisional Jawa mengalami perkembangan di lingkungan kehidupan rakyat. Selanjutnya kesenian yang hidup dan berkembang di lingkungan kehidupan rakyat dikenal dengan kesenian rakyat.

Sungguhpun sama-sama dikenal sebagai kesenian tradisi, namun terdapat perbedaan antara kesenian keraton dan kesenian rakyat. Kesenian keraton bukan sekedar sebagai media tontonan (hiburan), namun sebagai media tuntunan (pendidikan) yang sarat dengan tatanan (aturan atau pakem). Sementara, kesenian rakyat cenderung sebagai tontonan dan tidak memiliki tatanan yang rumit. Sehingga dalam perkembangan kesenian rakyat sangat dinamis. Lain dengan kesenian keraton yang dalam perkembangannya lebih statis dikarenakan sudah ditentukan dengan tuntunan atau tatanan yang pantang untuk dilanggar.

Karena sarat dengan tuntunan, kesenian tradisional yang masih dilestarikan di dalam keraton senantiasa mengandung ajaran-ajaran filosofis yang sering dijadikan sumber ajaran Kejawen bagi para pengikutnya.

Diambil dari: Sejarah Agama Jawa (Araska, 2019), Sri Wintala Achmad.


Konsultasi Seputar Hal Spiritual, Pelarisan dan Pengasihan, Dengan Ibu Dewi Sundari langsung dibawah ini :

Atau Hubungi Admin Mas Wahyu dibawah ini :