Ada Ramalan Di Balik Nyala Api

Media ramalan bukan hanya kartu, telapak tangan ataupun teh dan daun kopi. Ada lagi yang bisa dijadikan media meramal, yaitu api.

Ramalan lewat media api disebut pyromancy. Istilah ini terbentuk dari dua kata dalam Bahasa Yunani, yaitu pyros yang bermakna api, dan manteia yang bermakna ramalan.

Cara meramal seperti ini sudah sangat lama dipraktekkan. Bahkan bisa jadi sudah mulai dilakukan orang sejak awal manusia mengenal api. Seiring dengan berjalannya waktu, teknik-teknik pembacaannya pun berkembang.

Teknik paling dasar untuk meramal dengan api, adalah dengan memperhitungkan warna, bentuk, dan intensitas api. Adapun barang-barang yang dijadikan pembakaran atau persembahan bisa berupa tanaman herbal, ranting, kacang, atau dupa.

Hasil bacaan dianggap positif manakala api membakar barang persembahan dengan cepat dan lahap. Sebaliknya, bila apinya lemah maka artinya dianggap sebagai pertanda buruk.

Pyromancy banyak digunakan untuk meramal nasib dan kesehatan seseorang. Nyala api yang bengkok dianggap sebagai pertanda sakit, bagi mereka yang sehat. Sedangkan bagi orang sakit, dianggap sebagai pertanda kematian. Bila nyala apinya kuat dan stabil, artinya akan mendapatkan kebaikan. Namun jika api yang dipakai mati dengan tiba-tiba, dianggap sebagai pertanda bencana.

Metode lain dilakukan dengan melemparkan objek tertentu ke dalam api yang membara. Bila bakarannya bersih tanpa menimbulkan asap, tidak berwarna merah ataupun menggelap, dan tidak bersuara, maka dianggap sebagai pertanda baik. Sebaliknya, bila nyala api terganggu angin dan bakarannya bergemeretak keras, maka dianggap pertanda buruk.

batu giok pengasihan

Ada juga peramal yang menggunakan api dengan kertas. Kertas ini dibakar, lalu diletakkan di atas permukaan putih. Lalu noda atau abu bakarannya inilah yang dibaca. Cara seperti ini disebut Pyroscopy.

Tidak hanya api unggun, api obor pun bisa dibaca maknanya. Bila obor ini apinya membentuk satu ujung lancip, berarti pertanda baik. Bila ujung apinya terbelah dua, berarti pertanda buruk. Tetapi adalah paling baik bila ujung apinya terbelah tiga.

Pada masanya, pyromancy banyak dipraktekkan oleh para gadis yang mengabdi di kuil Minerva, Athena. Mereka ditugaskan untuk membaca pertanda dari api yang menyala abadi di kuil tersebut.

Sedangkan di masa Renaissance, pyromancy sempat digolongkan sebagai praktek terlarang. Seperti halnya ramalan garis tangan dan sejumlah metode meramal lainnya.

Pyromancy ada banyak jenis, tergantung dari objek apa yang dibakar sebagai persembahan. Bila yang dibakar adalah garam, disebutnya alomancy. Bila yang dibakar adalah tanaman, disebutnya botanomancy. Bila yang dipakai adalah daun laurel, disebutnya daphnomancy. Bila memakai tulang, disebutnya osteomancy. Sedangkan bila yang dibakar adalah jerami, sebutannya sideromancy.

Terlepas dari percaya tidaknya kita pada ramalan, setidaknya ini menunjukkan bahwa manusia, dimanapun berada, sudah meyakini dan mempraktekkan ramalan dengan cara yang berbeda-beda.  


Konsultasi Seputar Hal Spiritual, Pelarisan dan Pengasihan, Dengan Ibu Dewi Sundari langsung dibawah ini :

Atau Hubungi Admin Mas Wahyu dibawah ini :