Mengenal Sastra Jawa Kuno – Kakawin Smaradahana

Kakawin Smaradahana adalah sebuah karya sastra Jawa Kuno dalam bentuk kakawin, yang menyampaikan kisah terbakarnya Batara Kamajaya. Penulis dari kakawin ini adalah Mpu Dharmaja. Menurut sebuah catatan, disebutkan bahwa Smaradahana adalah Asmaradana, yang berasal dari kata asmara dan dhana. Asmara adalah nama dewa percintaan. Dhana berasal dari kata dahana, yang berarti api. Nama Asmaradana berkaitan dengan peristiwa hangusnya Dewa Asmara oleh sorot mata ketiga Dewa Siwa.

Dalam kitab Smaradahana, disebut nama Raja Kediri, Prabu Kameswara, yang merupakan titisan Dewa Wisnu yang ketiga kalinya dan berpermaisuri Sri Kirana Ratu, putri dari Kerajaan Jenggala.

Dalam prasasti batu, memang tertulis Raja Kediri Kameswara bertahta selama tahun 1115-1130, kemudian ada pula Raja Kameswara II yang bertahta pada sekitar tahun 1185. Para ahli Belanda memperkirakan bahwa Kameswara II itu yang mempunyai hubungan dengan Kitab Smaradahana. Akan tetapi, Purbatjaraka sebaliknya menunjuk Kameswara I yang terkait. Sebab, raja tersebut dalam kitab Panji bernama Hinu Kertapati dan permaisurinya bernama Kirana, yaitu Dewi Candrakirana, hanya posisi Jenggala dan Kedirinya yang terbalik.

Adapun inti dari kakawin ini, adalah sebagai berikut:

Ketika Batara Siwa pergi bertapa, Indralaya didatangi musuh, raksasa dengan rajanya bernama Nilarudraka, demikian heningnya dalam tapa, Batara Siwa seolah-olah lupa akan kehidupannya di kahyangan. Supaya mengingatkan Batara Siwa dan agar kembali ke kahyangan, maka oleh para dewa, diutuslah Batara Kamajaya untuk menjemputnya. Berangkatlah sang batara untuk mengingatkan Batara Siwa, dicobanya dengan berbagai panah sakti dan termasuk panah bunga, tetapi Batara Siwa bergeming dalam tapanya. Akhirnya, dilepaskanlah panah pancawisesa, yaitu hasrat mendengar yang merdu, hasrat mengenyam yang lezat, hasrat meraba yang halus, hasrat mencium yang harum, dan hasrat memandang yang serba indah.

batu kecubung

Akibat panah pancawisesa tersebut, Dewa Siwa dalam sekejap rindu kepada permaisurinya, Dewi Uma. Tetapi, setelah diketahuinya bahwa hal tersebut adalah atas perbuatan Batara Kamajaya. Maka, ditataplah Batara Kamajaya melalui mata ketiganya yang berada di tengah-tengah dahi, hancurlah Batara Kamajaya. Dewi Ratih, istri Batara Kamajaya, melakukan ‘bela’ dengan menceburkan diri ke dalam api yang membakar suaminya. Para dewa memohonkan ampun atas kejadian tersebut, agar dihidupkan kembali. Permohonan itu tidak dikabulkan, bahkan dalam sabdanya bahwa jiwa Batara Kamajaya turun ke dunia dan masuk ke hati laki-laki, sedangkan Dewi Ratih masuk ke dalam jiwa wanita. Ketika Siwa duduk berdua dengan Dewi Uma, maka datanglah para dewa mengunjunginya, termasuk Dewa Indra dengan gajahnya, Airawata yang demikian dahsyatnya sehingga Dewi Uma terperanjat dan ketakutan melihatnya.

Kemudian, Dewi Uma melahirkan putra berkepala gajah, yang kemudian diberi nama Ganesha. Datanglah raksasa Nilarudraka yang melangsungkan niatnya menggedor kahyangan. Maka, Ganeshalah yang harus menghadapinya. Dalam perang tanding tersebut, Ganesha berubah setiap saat, bertambah besar, dan semakin dahsyat. Akhirnya, musuh dapat dikalahkan, dan para dewa bersuka cita.

Diambil dari: Babad Tanah Jawi (Laksana, 2014), Soetjipto Abimanyu


Konsultasi Seputar Hal Spiritual, Pelarisan dan Pengasihan, Dengan Ibu Dewi Sundari langsung dibawah ini :

Atau Hubungi Admin Mas Wahyu dibawah ini :

Bacaan Paling Dicari: