Mengenal Catur Budi Dalam Ajaran Kejawen

Jika ingin dihormati, pakailah Catur Budi. Jangan sampai keempat budi itu engkau tinggalkan.

Apa itu Catur Budi?

Orang yang memiliki jabatan atau kedudukan yang dihormati dalam masyarakat, disebut priyayi. Sebutan priyayi biasanya melekat pada orang yang terpelajar dan berpendidikan. Umumnya mereka memiliki wawasan yang luas, mengerti peraturan dan tata krama, dan senang pada seni budaya.

Predikat ini tidak bisa diraih oleh sembarang orang.

Yen wus amriyayi sira

Nganggoa kawan prakawis

Bubuden aywa tinilar

Kang dhigin budi priyayi

Ping kalih budi santri

Budi saudagar ping telu

Budi tani kaping pat

Liring kang budi priyayi

Tata krama unggah ungguhing wicara

(Serat Sana Sunu, Tembang X: Sinom, bait ke-26)

Itulah sebabnya seorang priyayi harus memiliki empat budi atau catur budi. Yaitu budi priyayi, budi santri, budi saudagar, dan budi petani.

Catur Budi I- Budi Priyayi

Budi priyayi yaitu memiliki sikap sopan santun. Nilai sopan santun itu antara lain ditunjukkan dengan ucapan maupun penampilan fisik berupa pakaian yang dikenakan. Itulah sebabnya pitutur Jawa mengungkapkan, ajining diri ana saka lathi, ajining raga ana busana.

Orang yang selalu berpikir, berbicara dan bersikap tentang kebenaran, diucapkan dengan halus dan sopan akan dihargai orang lain. Sedangkan pakaian atau busana yang dimaksudkan bukan sekedar pakaian yang dikenakan, tetapi juga pekerjaan, jabatan, pangkat, gelar, dan sebagainya.

Orang yang berpakaian, bekerja dengan sopan, wajar dan sesuai dengan hokum masyarakat dan agama, maka ia akan dihargai.

Catur Budi II – Budi Santri

Yang dimaksud dengan budi santri ialah hati yang bersih dan suci, memperbanyak perbuatan amal hanya karena Tuhan. Sikapnya selalu menunjukkan rasa syukurnya pada Tuhan.

Begitu, ya sudah. Begini, ya syukur. Tidak mempersoalkannya sampai berlarut-larut.

Artinya seseorang diharapkan untuk narima ing pandum, maksudnya menerima dengan ikhlas apa yang diberikan Tuhan, tidak mudah iri dan dengki dengan milik orang lain. Sikap ini seorang seseorang hanya pasrah pada keadaan, tetapi justru memiliki makna filosofi yang mendalam.

batu giok pengasihan

Narima ing pandum bukan sekedar menerima nasib apa adanya. Bukan hanya berdiam diri tanpa usaha maksimal. Justru sikap ini adalah sikap berusaha maksimal dengan segenap usaha, lalu pasrah tawakkal menerima garis yang ditakdirkan Tuhan.

Jadi bukan sikap menyerah atas nasib kita. Sikap ini justru pantang menyerah, tetapi tetap mengingat Tuhan sebagai penentu garis kehidupan. Manusia hanya mampu berusaha, Tuhan yang menentukan.

Catur Budi III – Budi Saudagar

Budi saudagar ialah cermat dalam segala tindakannya. Hemat serta teliti, dan tidak mau melakukan sesuatu yang sia-sia. Sikap budi saudagar ini diungkapkan dalam ‘gemi taberi nastiti ngati-ati’.

Gemi artinya hemat, taberi artinya sungguh-sungguh, nastiti artinya cermat, dan ngati-ati artinya hati-hati. Seorang pedagang harus memiliki watak hemat dan mensyukuri apa yang diperoleh dalam menjalankan usahanya.

Ia juga harus cermat dan membedakan segala sesuatu mana yang harus diprioritaskan, dan mana yang harus dipenuhi, atau bahkan mana yang harus ditunda. Watak ini sangat penting dalam pengelolaan pekerjaan, bukan hanya saudagar secara sempit yang diartikan sebagai pedagang.

Dengan sikap hati-hati, maka akan terhindar dari masalah sepele yang bisa memporakporandakan usaha atau pekerjaan yang telah dirintis sejak lama.

Catur Budi IV – Budi Tani

Budi tani adalah sikap bersungguh-sungguh serta rajin. Pekerjaan berat maupun ringan, semuanya adalah kewajibannya. Tidak pernah mempunyai peri atau berwatak suka membicarakan masalah orang lain. Tidak ada perasaan sombong atau angkuh. Mantap dan bersungguh-sungguh, serta berani membela atau tekun terhadap pekerjaan yang sedang dikerjakannya, dan tidak suka mengulur-ngulur waktu maupun berpura-pura tidak bisa.

Dalam pepatah Jawa, kesungguhan ini diibaratkan rindhik asu digithik. Artinya, seseorang walaupun tidak disuruh, ia akan merasa senang saja bekerja, karena sesuai dengan keinginannya. Apalagi jika disuruh, maka ia akan merasa lebih senang karena merasa mendapatkan dukungan.

Pitutur ini menyiratkan, bahwa berbudi tani memiliki pemahaman, bahwa dalam setiap tindakan yang kita lakukan, adalah sesuatu yang menyenangkan hati, sehingga terasa ringan dan mudah dilakukan.


Konsultasi Seputar Hal Spiritual, Pelarisan dan Pengasihan, Dengan Ibu Dewi Sundari langsung dibawah ini :

Atau Hubungi Admin Mas Wahyu dibawah ini :