Kematian Gajah Mada dalam Babad Tanah Jawa

Membaca sejarah Kerajaan Majapahit tidak lengkap rasanya jika tidak menyinggung mengenai sosok Patih Majapahit yang paling masyhur dan terkenal dengan sumpahnya yang disebut Sumpah Palapa, yakni Patih Gajah Mada. Begitu kuat karismatik Patih Gajah Mada, sehingga hampir seluruh Nusantara dapat dipersatukan di bawah Kerajaan Majapahit.

Mengenai akhir hayat atau kematian Gajah Mada, disebutkan dalam Nagarakertagama bahwa sekembalinya Hayam Wuruk dari upacara keagamaan di Simping, ia menjumpai bahwa Gajah Mada telah sakit. Gajah Mada disebutkan meninggal dunia pada tahun 1286 Saka atau 1364 Masehi.

Bisa dipastikan bahwa dalam penetapan tarikh tahun mangkat Patih Gajah Mada ini, Nagarakertagama dapat dipercaya. Prapanca menyaksikan kematian itu sendiri, ia hidup sejaman dengan Patih Gajah Mada. Dalam Pupuh 10, kita baca bahwa pada tahun Saka 1285, Prabu Hayam Wuruk berziarah ke candi makam Simping. Ketika pulang dari Simping, terkejut mendengar kabar bahwa Patih Gajah Mada sakit keras.

Patih Gajah Mada mencurahkan segala tenaganya untuk keluhuran Kerajaan Majapahit. Adapun pujian pujangga Prapanca kepada Patih Gajah Mada terdapat dalam pupuh 12/4, yang bunyinya, ‘Di bagian timur laut adalah rumah sang Gajah Mada, Patih Wilatikta, seorang menteri wira, bijaksana, serta setia bakti kepada raja, fasih bicara, jujur, pandai, tenang, teguh tangkas, serta tegas. Tangan kanan maharaja yang melindungi hidup penggerak dunia.’

Memang, ucapan Mpu Prapanca itu terkesan agak berlebihan bagi beberapa orang. Namun, ucapan itu pada dasarnya memang benar. Keagungan Majapahit adalah berkat kemampuan Gajah Mada dalam menunaikan tugasnya sebagai Patih Amangku Bumi. Tidaklah mengherankan jika sepeninggal Gajah Mada, Prabu Hayam Wuruk sangat berduka cita.

Raja Hayam Wuruk kehilangan orang yang sangat diandalkan dalam memerintah kerajaan. Raja Hayam Wuruk pun mengadakan sidang Dewan Sapta Prabu untuk memutuskan pengganti Gajah Mada. Namun, tidak ada satupun yang sanggup menggantikan Patih Gajah Mada.

Hayam Wuruk kemudian memilih empat Mahamantri Agung di bawah pimpinan Punala Tanding untuk selanjutnya membantunya dalam menyelenggarakan segala urusan negara. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Mereka pun digantikan oleh dua orang Menteri, yaitu Gajah Enggon dan Gajah Manguri. Akhirnya, Hayam Wuruk memutuskan untuk mengangkat Gajah Enggon sebagai Patih Mangkubumi, yang menggantikan posisi Gajah Mada.


Konsultasi Seputar Hal Spiritual, Pelarisan dan Pengasihan, Dengan Ibu Dewi Sundari langsung dibawah ini :

Atau Hubungi Admin Mas Wahyu dibawah ini :