Kisah Pertemuan Pertama Panembahan Senopati dan Ratu Kidul

Kisah pertemuan pertama Panembahan Senopati dengan Ratu Kidul dalam Babad Tanah Jawa (Wiryapanitra, 1945: 63) diceritakan sebagai berikut.

Setelah Panembahan Senopati mendapat wahyu pada suatu malam, Ki Juru Mertani, paman sekaligus penasehatnya, belum merasa yakin jika kemenakannya itu telah menerima wahyu. Untuk memastikan, Panembahan Senopati diminta bertapa ke laut kidul, sedangkan Ki Juru Mertani bertapa ke Gunung Merapi. Panembahan Senopati segera berangkat, dan ia menceburkan diri ke Kali Opak, bertapa dengan menghanyutkan diri mengikuti arus sungai Opak (tapa mbathang) sampai di laut kidul.

Mengetahui hal itu, Ratu Kidul menemui Panembahan Senopati, dan diajaknya Senopati ke keratonnya di dasar samudera. Menyadari akan kecantikan Ratu Kidul dan ketampanan Senopati, keduanya saling terpikat dan menyatu dalam asmara. Sejak saat itulah Ratu Kidul menjadi istri Panembahan Senopati. Ketika Senopati mengajaknya hidup bersama dan mendampinginya sebagai raja Mataram, Ratu Kidul dengan halus menjelaskan bahwa itu tidak mungkin dilakukan, karena ia makhluk halus atau peri.

Meski tak dapat mendampingi Senopati, Ratu Kidul berjanji akan selalu siap membantunya jika keraton Mataram sewaktu-waktu menghadapi bahaya. Selain Ratu Kidul, raja wanita yang berkeraton di dasar laut kidul (laut selatan Pulau Jawa) yang bergelar Kanjeng Ratu Kidul, dikenal juga panglima atau senopati perangnya yang bergelar Nyai Rara Kidul.

Alkisah, jika Nyai Rara Kidul beserta wadya balanya diutus ratu untuk melakukan perjalanan ke puncak Gunung Merapi, terletak di sebelah utara ibu kota keraton Mataram, untuk menjenguk sahabatnya, yang juga besan atau orang tua menantu Kanjeng Ratu Kidul, terdengarlah suara gemeresak di atas sepanjang daerah yang dilaluinya, mulai dari arah Samudera Hindia sampai ke arah puncak Gunung Merapi.

Suara gemeresak dan hingar binger tersebut menandakan sedang lewatnya tundhan belis (perjalanan estafet iblis) yang dinaiki Nyai Rara Kidul sambil diiringi wadya balanya, yakni para siluman, demit mrekayangan/ iblis, jin, dan sejenisnya, yang menjadi tentaranya. Kejadian semacam itu biasanya terjadi saat senja.

Dalam perjalanannya itu, para prajurit siluman, iblis dan jin, menebar segala jenis baksil penyakit atau kuman-kuman di sepanjang wilayah yang dilewatinya, yang kemudian akan menyebar ke semua desa dan kota di sekitarnya karena terbawa angin kencang yang mengiringi perjalanan rombongan. Akhirnya berjangkitlah wabah penyakit di masyarakat, dinamakan pageblug (wabah/ sampar).

Untuk menghindari menularnya berbagai macam penyakit yang mewabah itu, dinasehatkan oleh para sesepuh (tetua) masyarakat, agar ketika terjadinya tundhan belis, semua orang tua, muda dan anak-anak, segera keluar rumah dan membunyikan tetabuhan; kentongan, atau kothekan lesung, untuk menyambut perjalanan rombongan Nyai Rara Kidul yang sedang mahawan wiyati (terbang di udara) melintasi desa mereka.

jimat keris semar

Perbuatan seluruh lapisan masyarakat itu dilakukan para penduduk desa-desa yang bertempat tinggal di pesisir laut kidul, yang tentunya mendengar pertama kali adanya tundhan belis itu, dan secara berantai diikuti oleh desa-desa lainnya yang berada di arah utaranya, sampai ke desa-desa terakhir di lereng Gunung Merapi. Tujuannya adalah untuk menggembirakan hati Nyai Rara Kidul, karena disambut di sepanjang perjalanannya.

Maksud lainnya adalah agar terhindar pula dari kemarahan Nyai Rara Kidul, karena kesaktiannya dapat mencelakakan seluruh isi desa mereka. Anak cucu diperintahkan nggebyagi gedheg (memukuli dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu), agar jika ada anak buah Nyai Rara Kidul yang mampir (singgah) tidak tersesat, hal itu dapat menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan (menderita sakit) atau hal yang fatal (menyebabkan kematian anggota keluarga).

Cerita mitos tradisional dengan wasita sinandi (pesan tersamar) tersebut mengandung suatu peringatan tentang akan datangnya bahaya/ bencana, yaitu jika terdengar suara gemeresak atau gemuruhnya gelombang Samudera  Hindia sampai ke atas perkampungan penduduk (daratan), berarti musim kemarau panjang akan tiba. Angin laut bertiup kencang ke utara, menggoncangkan daun-daun nyiur, bahkan sampai merobek daun-daun pisang, sehingga dapat menimbulkan suara gemeresak dan ditimpali gemuruh suara gelombang lautan yang terbawa angin (mahawan wiyati). Debu beterbangan diterpa angin dan mengotori segala yang ada di daratan, melekat di dinding-dinding rumah. Dimungkinkan melekat pula segala jenis kuman penyakit.

Maka tiba saatnya semua penduduk untuk membersihkan, mengapur kembali, dan memperbaiki kerusakan-kerusakan dinding rumah yang disebabkan usia atau dimakan rayap, tidak lain supaya angin tidak masuk ke dalam rumah melalui lubang-lubang dinding yang rusak; angin yang masuk lewat lubang dinding bisa menyebabkan sakit (kampar angin/ masuk angin).

Musim kemarau panjang biasanya diikuti oleh wabah penyakit (pageblug). Untuk mengingatkan hal tersebut, para aparat desa (sesepuh) pada masa itu memakai kode/ bahasa isyarat sebagai sarana komunikasi, yang telah disepakati oleh seluruh pemerintah desa dan masyarakat pada masa itu, yaitu dengan menggunakan bunyi kentongan dan kothekan lesung. Suaranya akan terdengar ke seluruh penjuru desa dan antar desa yang berdekatan, sehingga secara berantak (tundan) tersebar ke seluruh negeri. Dinding rumah yang tidak sempat dikapur kembali, paling tidak disapu (nggebyagi gedheg) agar debu-debu yang melekat dapat rontok, sehingga tidak dihuni kuman penyakit.

Diambil dari: Mitologi Jawa: Pendidikan Moral dan Etika Tradisional (Narasi, 2019), Drs. Budiono Herusatoto


Konsultasi Seputar Hal Spiritual, Pelarisan dan Pengasihan, Dengan Ibu Dewi Sundari langsung dibawah ini :

Atau Hubungi Admin Mas Wahyu dibawah ini :