Susahnya Memelihara Tuyul, Anak Sendiri Bisa Sampai Mati

.

Manakala sang majikan memiliki anak kandung, si tuyul bisa saja cemburu buta dan malah mencelakakan atau membunuh anak majikannya itu.


.


“Bu Dewi, ada pesugihan tuyul? Maharnya berapa?”

tuyul membunuh anak majikanBahkan setelah bertahun-tahun menggeluti dunia keparanormalan, terkadang saya masih merasa geli ketika mendengar pertanyaan seperti itu. Setengah geli, tapi setengah miris juga. Coba saja Anda pikirkan, apa enaknya memelihara tuyul? Apa bedanya dengan mencuri?

Tetapi memang seperti itulah adanya. Sampai hari ini masih tidak sedikit orang yang datang kepada saya dengan niat untuk memaharkan tuyul. Paling lucunya adalah, ketika orang yang berniat memelihara tuyul tersebut bahkan belum luwes merawat anak kandungnya sendiri. Lha kok ya niat sekali mau merawat tuyul segala.

Padahal, orang yang berkeinginan untuk memelihara tuyul berarti harus siap untuk merawat si tuyul ini ibarat merawat anak sendiri. Menyediakan kamar tidur lengkap dengan kasur, mainan, makanan, permen dan bahkan mengajak jalan-jalan.

Iya benar, tuyul juga perlu diajak jalan-jalan. Karena itu dalam kepercayaan masyarakat Jawa, orang tua sering menegur anaknya yang berjalan dengan memangku kedua tangan di belakang punggung. Agar tidak menjadi kebiasaan, soalnya kebiasaan berjalan yang seperti itu lazim dimiliki oleh mereka yang menggendong tuyul peliharaannya ketika berjalan-jalan. Orang lain jelas tidak melihat si tuyul ini, yang mereka lihat cuma sekedar ada orang yang berjalan dengan kedua tangan tergenggam di belakang.

tuyul kueSaya rasa semua orang pun pasti tahu dan setuju, bahwa tuyul itu bersikap selayaknya anak-anak. Mereka memang merupakan makhluk halus yang bertubuh mungil seperti anak kecil. Tapi sayang karena sikapnya yang seperti anak-anak itu, tuyul sering dimanfaatkan manusia untuk mencari kekayaan dengan cara memerintahkan mereka mencuri uang atau perhiasan milik orang lain. Terutama tuyul yang berasal dari arwah manusia.

Memangnya ada, tuyul yang tidak berasal dari arwah manusia? Ada. Tuyul sesungguhnya dapat dikategorikan ke dalam dua jenis.

Pertama adalah tuyul yang tadinya merupakan makhluk-makhluk korban aborsi. Mereka inilah golongan tuyul yang berasal dari arwah atau roh manusia. Wujudnya kecil-kecil, karena memang masih berusia sekitar tujuh bulan sewaktu digugurkan oleh ibunya. Ruh manusia yang kemudian berubah menjadi tuyul ini kemudian ditangkap oleh seorang ‘juru kunci’ sewaktu berkeliaran mencari sang ibu.

Sedangkan yang kedua adalah tuyul yang memang tercipta sebagai makhluk halus, bukan berasal dari arwah janin manusia. Wujudnya memang mirip manusia yang masih berusia kanak-kanak, tetapi beberapa bagian tubuhnya bisa nyeleneh. Ada yang bermata tiga, ada yang bermata satu persis di tengah-tengah jidat, ada yang berkuping panjang dan lancip dan ada pula yang bertandung di kepala.

Tuyul jenis kedua ini juga suka bermain-main, suka guyon bahkan meminta atau mencuri mainan. Tetapi banyak diantara mereka yang membawa pengaruh buruk, berkelakuan cenderung jahat dan galak terhadap manusia. Maka dari itu tidak heran jika tuyul jenis kedua ini dikatakan sebagai makhluk halus golongan hitam.

tuyul gelapBila dilihat dari hasil kerjanya, tuyul jenis kedua memang lebih giat dan menghasilkan lebih banyak. Tetapi mereka mudah marah, terutama bila keinginannya tidak terpenuhi. Bila ingin disusui, maka istri dari pemilik tuyul itulah yang harus menyusuinya. Sudah begitu si tuyul memiliki nafsu minum dan daya hisap yang tidak seperti bocah manusia. Air susu si ibu bisa dikuras habis, hingga darahnya ikut tersedot sekalian. Otomatis istri pemilik tuyul tersebut jadi sering sakit-sakitan, lemas dan kurus.

Manakala sang majikan memiliki anak kandung, si tuyul bisa saja cemburu buta dan malah mencelakakan atau membunuh anak majikannya itu.

Aneh, bukan? Dengan resiko sebesar itu tetap saja ada orang yang tertarik memelihara tuyul.

Lain kepala lain pemikiran. Ada juga yang datang kepada saya bukan untuk meminta tuyul, tapi justru meminta penangkal tuyul. Mudah saja sebenarnya, secara tradisional serangan tuyul bisa dicegah dengan memasang yuyu atau kepiting sungai di sekitar rumah. Tuyul menyukai yuyu dan menganggapnya sebagai mainan, karena itu ia bisa sampai lupa terhadap tugas yang dibebankan pemiliknya.

Setelah saya berikan solusi, klien saya ini bertanya lagi, ‘Katanya tuyul itu seperti anak-anak, lugu lah, polos lah, suka main-main lah. Tetapi kenapa tuyul bisa pintar sekali? Sampai tahu kalau ada orang yang punya banyak uang. Apa memang tuyul bisa mencium bau uang seberapapun jauhnya?’

Sebenarnya tidak. Bukan si tuyul yang punya penciuman tajam, tapi majikannya. Si tuyul hanya disuruh mencuri saja, pemiliknyalah yang terlebih dulu mengamati calon korban.

Setelah itu pembicaraan kami jadi melebar lagi. Klien saya tersebut kemudian menceritakan salah seorang tetangganya yang ‘sepertinya’ memelihara tuyul. Sambil bergurau saja saya katakan bahwa berburuk sangka itu tidak baik. Apalagi hal-hal yang sifatnya gaib sangat sulit dibuktikan oleh orang awam, salah-salah malah jadi fitnah.

Kalau bicara soal ‘sepertinya’, semua orang pun bisa dikatakan ‘sepertinya’ memelihara tuyul. Soalnya ciri-ciri fisik ‘kan hampir tidak ada. Kebiasaan-kebiasaan pemilik tuyul juga bisa terlihat normal bagi orang biasa yang melihatnya. Contohnya, menyisakan makan malam dan sengaja tidak mencuci tangan. Semisal menjumpai orang yang demikian, paling-paling mereka yang tidak mengerti hanya akan mengira bahwa orang itu jorok. Padahal makanan sengaja disisakan untuk tuyulnya, tangan juga tidak dicuci setelah makan malam karena syarat memegang tuyulnya memang seperti itu.

Paling tidak, seminggu sekali si pemilik harus mengajak tuyulnya jalan-jalan keliling kampung. Kedua tangannya diletakkan di belakang punggung karena menggendong si tuyul yang tidak nampak di penglihatan orang awam. Tapi yang punya kebiasaan jalan-jalan ‘kan bukan pemilik tuyul saja, apalagi jalan-jalan itu baik untuk kesehatan. Masa iya semua orang yang menggenggam tangan di belakang punggung itu pasti punya tuyul? Ini jelas tidak bisa dijadikan patokan penilaian.

Misalnya Anda menjumpai orang yang hidupnya cepat kaya, sampai-sampai terkesan tidak masuk akal sekalipun, belum tentu ia memelihara tuyul. Lha wong orang yang memelihara tuyul saja belum tentu akan hidup kaya raya. Banyak uang, iya. Tetapi bukan berarti hidupnya akan mulia. Terutama bila orang tersebut sama sekali tidak berbakat mengelola keuangannya dan cuma mau senang-senang saja.

Terakhir, bila Anda tidak ingin rumah disantroni tuyul, hindari kebiasaan menyisakan makanan di atas piring setelah makan. Bagaimanapun juga tuyul itu lugu, polos, gampang sekali nyasar alias tersesat. Apalagi kalau dia sedang ngambek pada majikannya. Bisa-bisa ia malah ‘mampir’ ke rumah Anda hanya karena ada banyak makanan yang tersisa.

Orang-orang tua jaman dulu sering memberikan banyak petunjuk. Jangan suka menyisakan makanan. Tetapi sayang, semakin ke sini semakin jarang generasi muda yang mau mendengarkan.

.

jimat pelarisan

Bacaan Paling Dicari: