Baju Surjan, Pakaian Adat yang Penuh Filosofi

Baju surjan merupakan busana kejawen yang sarat filosofi kehidupan. Istilahnya ‘piwulang sinandhi’ atau kaya akan suatu ajaran yang tersirat.


Apa Itu Baju Surjan?

Surjan awalnya diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Inspirasinya adalah model pakaian yang sudah ada waktu itu, sebelum kemudian digunakan pada jaman Mataram. Wujudnya berupa baju laki-laki berkerah tegak. Lengannya panjang, dan umumnya terbuat dari bahan lurik atau cita berkembang.

Nama ‘surjan’ sendiri terbentuk dari dua kata yang diringkas menjadi satu. Dua kata ini adalah suraksa-janma, yang artinya menjadi manusia. Surjan juga bisa berasal dari istilah siro-jan yang artinya pelita.

Filosofi Baju Surjan

Surjan disebut juga sebagai baju takwa. Karena di dalamnya terdapat berbagai filosofi keagamaan dan kehidupan, termasuk:

  1. Bagian leher baju surjan memiliki tiga pasang kancing. Enam biji kancing ini mewakili rukun iman dalam agama Islam.
  2. Surjan memiliki dua buah kancing di bagian dada, letaknya masing-masing di sebelah kanan dan kiri. Dua kancing ini menyimbolkan dua kalimat syahadat.
  3. Selain itu, surjan juga memiliki tiga buah kancing di bagian dalam dada (dekat perut). Letaknya tertutup, tidak nampak dari luar. Tiga kancing ini mewakili tiga macam nafsu yang harus diredam atau ditutup oleh manusia. Antara lain nafsu bahimah (hewani), nafsu lauwamah (makan dan minum) dan nafsu syaitoniah (kesetanan).

Karena itulah surjan dianggap lebih dari sekedar pakaian yang berfungsi untuk menutupi badan dari dingin dan panas. Ada filosofi yang bermakna mendalam pada desainnya.

Jenis-Jenis Baju Surjan

Ada dua jenis surjan, yaitu surjan lurik dan surjan ontrokusuma. Disebut surjan lurik karena motifnya berupa lurik (garis-garis). Sedangkan surjan ontrokusuma bermotif bunga (kusuma). Biasanya, surjan ontrokusuma ini terbuat dari kain sutera bermotif bunga sebagai hiasan.

Surjan ontrokusuma hanya diperuntukkan bagi para bangsawan. Sedangkan seragam bagi para aparat kerajaan hingga prajurit adalah surjan lurik. Sebagai pembeda jabatan atau kedudukan pemakainya dapat ditandai dari ukuran motif lurik, warna dasar kain lurik dan warna motif luriknya. Semakin besar motif berarti semakin tinggi jabatan orang tersebut. Demikian halnya dengan warna dasar kain dan warna garis-garis lurik tersebut.

Pemakaian surjan dilengkapi dengan blangkon sebagai tutup kepala, dengan mondolan (bagian yang menyembul) di belakangnya. Fungsi mondolan ini pada jaman dulu adalah untuk menyimpan rambut panjang para pria agar nampak lebih rapi.

Sayang beribu sayang, baju adat yang sarat makna ini sekarang tak marak lagi. Kalaupun ada yang mengenakannya, hanya pada saat hajatan saja. Sehingga generasi muda jaman sekarang banyak yang tidak paham tentang tata cara pemakaian pakaian adatnya sendiri. Bahkan kebanyakan orang sudah tidak lagi memiliki seperangkat pakaian adat resmi.

susuk samber lilin

Bacaan Paling Dicari: