Tradisi Gowok Jawa – Pendidikan Seks Cara Lama

Tradisi Gowok memang saat ini tidak lagi ada. Selain dirasa tak lagi pantas, tradisi penggowokan juga dianggap tidak sejalan dengan nilai-nilai agama.


Namun pernah ada masanya, ketika tradisi ini dijalankan sebagai bagian dari budaya lokal.

Apa Itu Tradisi Gowok?

Budaya gowok pernah dikenal oleh masyarakat Jawa. Khususnya masyarakat sekitar wilayah Banyumas, Bagelen Purworejo dan Temanggung. Tradisi ini dilakukan terhadap lelaki perjaka yang hendak melangsungkan pernikahan.

Oleh keluarganya, sang perjaka dititipkan kepada perempuan yang akan mengajarkannya cara menjadi lelaki sejati. Termasuk tata krama berumah tangga, serta tata cara bermain cinta. Perempuan inilah yang disebut sebagai Nyai Gowok.

Disinyalir, tradisi gowok berasal dari Tiongkok. Ketika itu Laksamana Cheng Ho tiba di Jawa bersama seorang wanita bernama Goo Wok Niang. Wanita inilah yang kemudian menjadi cikal bakal tradisi ini.

Bersama Nyai Gowok

Selama beberapa hari, sang perjaka tadi tinggal bersama Nyai Gowok yang disewa oleh keluarganya. Ketika itulah ia akan diajari bagaimana cara hidup berumah tangga yang baik dan benar. Tujuan utamanya ketika itu, adalah agar si perjaka tidak mendapat malu pada saat malam pertama.

Kurang lebih seperti itulah tugas Nyai Gowok. Ia harus mengajarkan si perjaka agar tahu bagaimana cara memuaskan istrinya di atas ranjang. Serta tahu bagian-bagian tubuh mana saja yang perlu disentuh pada saat berhubungan badan. Karena memang, banyak jejaka di jaman dulu yang masih terlalu polos ketika tiba masanya berumah tangga.

Selama masa penggowokan ini pula, calon mempelai pria tadi belajar meracik ramuan. Khususnya ramuan yang berkhasiat untuk meningkatkan keperkasaan.

Di masyarakat sendiri, mereka yang berprofesi sebagai nyai gowok biasanya adalah perempuan yang disegani. Ia tidak menikah dan hidup sendiri, dengan rentang usia sekitar tiga puluh atau empat puluhan tahun.

Jaman sekarang yang namanya penggowokan memang tidak lagi ada. Tetapi bukan berarti budaya ini tidak patut diketahui keberadaannya. Paling tidak, sebagai pengingat bahwa budaya Nusantara itu luar biasa beragam. Hingga kadang ada tradisi yang oleh orang sekarang rasanya tidak terpikirkan.

ayat seribu dinar

Bacaan Paling Dicari: