Syekh Siti Jenar & Manunggaling Kawula Gusti

Syekh Siti Jenar bernama asli Raden Abdul Jalil. Sebagai salah satu penyebar Islam di Pulau Jawa, beliau dikenal juga dengan sebutan Sunan Jepara atau Syekh Lemah Abang (lemah abang= siti jenar= tanah merah).


Siapakah Syekh Siti Jenar?

Syekh Siti Jenar secara umum dianggap sebagai tokoh sufi, yang menyebarkan ajaran Islam di wilayah Jawa. Atau di Kabupaten Jepara pada khususnya. Banyak hal masih simpang siur terkait riwayat dan akhir hayat beliau. Bahkan dimana letak makamnya pun masih diperdebatkan.

Syekh Siti Jenar Manunggaling Kawula Gusti

Dalam Bahasa Jawa, kata ‘Siti’ bermakna tanah, sedangkan ‘Jenar’ bermakna merah atau kuning kemerahan. Daerah Jepara yang menjadi kadipaten tempat beliau tinggal memang memiliki tanah yang berwarna agak merah. Bahkan nama dusunnya pun Lemah Abang (tanah merah), letaknya saat ini di Kecamatan Keling, Jepara.

Namun disamping itu, ada pula yang menganggap bahwa nama ‘Siti’ sesungguhnya berasal dari kata Sidi/ Sayyidi yang bermakna junjungan (tuan). Sedangkan Jenar dianggap berasal dari istilah Jinnar (nar= api). Sehingga dapat ditafsirkan bahwa Syekh Lemah Abang memiliki semangat keilmuan yang selalu membara layaknya api.

Ajaran Syekh Siti Jenar

Syekh Lemah Abang paling dikenal karena ajaran Manunggaling Kawula Gusti, yang merupakan penjawaan dari Wahdatul Wujud. Sebagian umat Islam kala itu menganggap ajaran ini sesat, sementara sebagian lagi justru menganggap bahwa Syekh Lemah Abang telah menemukan esensi Islam.

Ajaran-ajaran ini dituangkan dalam karya sastranya yang membahas tentang budi pekerti, yaitu Pupuh.

Ajaran sufi yang dikembangkan Syekh Lemah Abang ketika itu dinilai tidak sejalan dengan ajaran Walisongo. Padahal para pendukungnya telah menegaskan bahwa Syekh Lemah Abang tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti (Bersatunya Hamba dengan Tuhan) bukan lantas berarti bahwa manusia adalah Tuhan. Bukan berarti bahwa ada dua wujud jasmani yang lebur menjadi satu.

Anggapan ini muncul dari perbedaan tafsir atas ayat suci berikut:

Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh(ciptaan)-Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.”

Q.S. Shaad: 71-72

Dalam diri seorang manusia terdapat ruh, yang mana ruh tersebut berasal dari Tuhan. Sehingga kembalinya seorang hamba kepada Tuhan (ibadah) adalah saat bersatunya sang hamba dengan Tuhannya.

Bisa jadi, Walisongo kala itu khawatir bila ajaran Syekh Lemah Abang terlampau tinggi bagi mereka yang masih awam. Pasalnya masyarakat banyak yang masih berada di level syariat. Sedangkan Syekh Siti Jenar sendiri telah mencapai hakekat, atau bahkan makrifat. Dimana cinta terhadap Tuhan telah terbentuk sedalam dan seluas-luasnya. Sehingga menurut Syekh Siti Jenar belum dapat dibilang ikhlas, bila seseorang itu beribadah hanya karena mengharapkan surga dan pahala.

Parahnya, sampai saat ini pun masih ada yang berpikir bahwa Syekh Lemah Abang mengajarkan bahwa sholat dan puasa itu tidak perlu. Padahal maksudnya tidak seperti itu. Tuhan ada di dalam budi, percuma beribadah sampai mati kalau tidak bisa menata diri.

susuk samber lilin

Bacaan Paling Dicari: