Serat Wulangreh – Ajaran Menuju Hidup yang Harmonis

Serat Wulangreh merupakan karya sastra berwujud tembang macapat. Penulisnya tidak lain adalah Sunan Pakubuwana IV, Raja Surakarta (1788-1820).


Ajaran Serat Wulangreh

Pakubuwana IV memang tidak hanya dikenal mewarisi darah biru keraton saja. Tetapi juga berbakat besar dalam dunia sastra. Karya-karya kepujanggaannya pun sampai hari ini masih dapat diakses.

Pada masanya, rakyat mengagumi Pakubuwana IV karena konsep ketatanegaraan dan keilmuan yang ia bangun. Pakubuwana IV memulai tradisi-tradisi yang berbeda dari penguasa sebelumnya. Sebagai contoh, prajurit keraton yang sebelumnya berseragam model Belanda diganti dengan seragam model Jawa. Sholat berjamaah diadakan di Masjid Besar setiap hari Jumat, dan setiap abdi dalem yang menghadap harus berbusana santri. Perubahan tradisi ini dilakukan sebagai upaya untuk mengembalikan kejawaan masyarakat, yang pada saat itu telah tercampur budaya Belanda.

Salah satu karya Pakubuwana IV yang paling menonjol adalah Serat Wulangreh. Di dalam tulisannya ia menggoreskan banyak ajaran-ajaran moral yang dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Istilah ‘wulang’ sama artinya dengan ‘pitutur’, yang bermakna ajaran. Sedangkan kata ‘reh’ berasal dari Bahasa Jawa Kuno yang artinya jalan, aturan, atau lelaku dalam mencapai tujuan. Dengan demikian, Wulangreh dimaksudkan sebagai ajaran untuk mencapai sesuatu. Dalam hal ini, sesuatu tersebut adalah kehidupan yang harmonis.

“Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese dur angkara.”

Artinya:

“Ilmu itu bisa dipahami (dikuasai) harus dengan cara, cara pencapaiannya dengan cara kas, artinya kas berusaha keras memperkokoh karakter, kokohnya budi (karakter) akan menjauhkan diri dari watak angkara.”

– Kutipan Serat Wulangreh, Museum Radya Pustaka Surakarta

Makna kutipan tersebut adalah, bahwa ilmu bukanlah pengetahuan semata. Tetapi juga termasuk laku dan langkah dalam mencapai karakter mulia. Pengetahuan itu perlu, tetapi moral dan budi pekerti tidak kalah pentingnya.

Menariknya, Wulangreh tidak banyak menggunakan Bahasa Jawa lama. Sehingga di jaman itu pembaca dapat dengan mudah membaca dan memahami isinya.

Isi Serat Wulangreh

Wulangreh terdiri dari 13 pupuh. Isinya mengandung nilai-nilai luhur, moral dan budi pekerti (etika), nilai-nilai religius dan ajaran kepemimpinan.

Ajaran pertama yang dapat ditarik dari Wulangreh adalah ajaran untuk memilih guru. Tentang kebijaksanaan dalam bergaul, kepribadian, tata krama, berbakti kepada orang lain dan ketuhanan. Termasuk juga berbakti kepada pemerintah, pengendalian diri, kekeluargaan, keselamatan, keikhlasan, kesabaran, keluhuran dan peribadatan yang baik.

Di samping isi kandungannya, Wulangreh juga dikenal karena keindahan ritma dan rima serta bunyi bahasa. Meliputi purwakanthi swara, purwakanthi guru swara, dan purwakanthi lumaksita. Pemilihan kata (diksi) yang menarik, aliterasi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif dan metrum juga dapat ditemukan dalam Serat Wulangreh.

Dari sisi kepemimpinan sendiri, Wulangreh menuliskan bahwa pemimpin yang baik haruslah memiliki sifat jujur, tidak mengharapkan pemberian dari orang lain, rajin beribadah, serta tekun mengabdi kepada masyarakat.

garam pangruwat