Serat Centhini, Antara Mistis dan Erotis

Serat Centhini merupakan karya sastra spektakuler. Seperti sengaja ingin membuktikan, bahwa orang Jawa yang serba santun nan halus pun sebenarnya bisa cabul dan mesum.


Apa Itu Serat Centhini?

Serat Centhini adalah sastra gubahan tiga pujangga Keraton Surakarta, yaitu Yasadipura II, Ranggasutrasna dan R. Ng. Sastradipura, yang ditulis atas perintah Pakubuwana V. Nama lainnya adalah Suluk Tembangraras atau Suluk Tembangraras-Amongraga.

Terdiri dari 12 jilid setebal 4.000 halaman lebih, Serat Centhini umum dianggap sebagai Kamasutra Jawa. Karena beberapa jilid diantaranya memuat ajaran erotis berbalut mistis Jawa Islam. Padahal Suluk Tembangraras lebih dari sekedar itu, isinya mencakup sisi-sisi budaya dan kehidupan orang Jawa pada masanya. Secara lengkap dan penuh nasehat.

Seksualitas Dalam Serat Centhini

Centhini menuliskan bahwa seks bukan sekedar pertemuan kelamin saja. Seks merupakan puncak erotika, yang dijabarkan dengan berbagai kosa kata, pendahulu istilah erotisme itu sendiri. Termasuk kata ajigineng, terangsang, nafsu birahi, cinta syahwati, asmaragama (seni bercinta), kasmaran, naluri seksual, pengumbaran nafsu dan mabuk kepayang. Rupaya masyarakat Jawa telah mempunyai konsep erotika yang jelas, sehingga salah jika dikatakan bahwa konsep erotika sepenuhnya datang dari barat.

Sebagai contoh, Centhini II (Pupuh Asmaradana) menguraikan ‘ulah asmara’ secara gamblang. Hubungannya adalah dengan lokasi genital yang sensitif dalam permainan badan. Termasuk cara mempercepat orgasme bagi perempuan dan bagaimana cara agar si laki-laki tidak cepat ejakulasi.

Sejalan dengan uraian tersebut, Centhini IV (Pupuh Balabak) menjelaskan tentang gaya persetubuhan (pratingkahing cumbana), beserta sifat-sifat perempuan dan bagaimana cara membangkitkan nafsu asmaranya. Ternyata perempuan Jawa tidak selamanya bersikap pasif dan lugu, dalam kaitannya dalam masalah persenggamaan.

Perempuan tetap bebas mengemukakan pengalaman bercintanya, seperti yang nampak dalam Centhini V (Pupuh Dandanggula). Disana terkisah obrolan para perempuan (baik tua maupun muda) di belakang rumah pengantin menjelang pernikahan Amongraga dan Tembangraras. Salah satunya terkutip sebagai berikut:

‘Nyai Tengah menjawab sambil bertanya, “Benar dugaanku, Ni Daya, dia memang sangat kesulitan, napasnya tersengal. Saya batuk saja, eh lepas … Mak bul mudah sekali lepasnya. Tak pernah kukuh di tempatnya. Susahnya sangat terasa, karena meski besar seakan mati.” Disambut dengan tawa cekikikan’.

Budaya Jawa mengenal katuranggan, yang merujuk pada watak, sifat atau tanda-tanda perempuan berdasarkan karakter fisiknya. Dijelaskan seperti apa ciri-ciri perempuan yang ideal sebagai istri, karena kemampuannya dalam berhubungan intim. Tipe-tipe perempuan idaman ini disebut dengan istilah guntur madu, merica pecah, tasik madu, sri tumurun, puspa megar, surya sumurup, menjangan ketawan, amurwa tarung atau mutyara.

Surya Sumurup, misalnya, menggambarkan perempuan dengan sepasang bibir yang berwarna merah jambu. Sorot matanya kebiruan, dengan rambut dahi yang menggumpal. Kedua alisnya membentuk bulan sabit (nanggal sapisan). Selain dianggap setia terhadap laki-laki, perempuan surya sumurup juga lihai mencapai orgasme (derajat marlupa) secara bersamaan.

Tata Krama Suami-Istri

Serat Centhini juga menyebut tentang tata krama dalam berhubungan suami-istri. Aktivitas ini perlu dilakukan empan papan. Artinya adalah mengetahui situasi, tempat/ keadaan, tidak tergesa-gesa dan dilakukan atas keinginan bersama.

Budaya Jawa juga telah mengenal kalender seksual, semacam penanggalan yang berkaitan dengan masalah rasa perempuan. Hal ini diasumsikan pada kecenderungan perempuan yang titik paling sensitifnya selalu berpindah-pindah sesuai tinggi rendahnya bulan. Maka sebelum berhubungan, seorang suami perlu memperhatikan istri berdasarkan ciri atau penampakan tubuhnya.

Macam-Macam Posisi Seksual Dalam Serat Centhini

Lebih lanjut, Serat Centhini II (Pupuh Asmaradana) mengulas pula tentang posisi berhubungan seks yang perlu dilakukan. Sedangkan Serat Centhini IV (Pupuh Balabak) menuliskan bahwa penetrasi harus dilakukan berdasarkan tipe perempuan yang menjadi pasangan.

Itulah mengapa kemudian muncul berbagai gaya bercinta, seperti kadya galak sawer (mematuk laksana ular galak), lir ngaras gandane sekar (seperti meraba baunya bunga), lir bremana ngisep sekar (laksana kumbang mengisap madu), lir lumaksana pinggire jurang (ibarat berada di tepi jurang), baita layar anjog rumambaka (seperti kapal layar turun ke tengah lautan), dan sebagainya.

Masyarakat Jawa juga telah lama mengenal resep keperkasaan khusus pria (jalu usada). Dalam Serat Centhini VII (Pupuh Dandanggula) tertuang resep mengobati mani encer. Bahannya antara lain merica sunti, cabe wungkuk tujuh buah, garam lanang, arang kayu jati dan seperempat gula aren. Bahan-bahan tersebut dipipis hingga lembut di tengah halaman pada siang hari. Lalu dibentuk menjadi kapsul dan ditelan sambil membaca mantra.

Memang sungguh beda, bila sisi erotis manusia dibalut dengan selimut mistis Jawa. Bukan mistis dalam pengertian angker, tetapi mistis yang lebih mengarah kepada spiritualitas dan kesejatian diri.

ayat seribu dinar

Bacaan Paling Dicari: