Sejarah Pandai Besi Di Pulau Jawa

Sejak dulu, profesi pandai besi memiliki posisi tinggi dalam masyarakat. Sekalipun secara kelas sosial dan jenis pekerjaan, memang cenderung termasuk pekerjaan kasar.


Pandai Besi, Turun Temurun Sejak Jaman Majapahit

Sudah puluhan abad Pulau Jawa mengenal keberadaan para pandai besi. Cukup banyak prasasti yang menerangkannya, dengan sebutan ‘pande wesi’ ketika itu. Di Jawa Tengah sendiri ada beberapa desa yang dikenal sebagai desanya pandai besi. Tak tanggung-tanggung, status tersebut mereka sandang sejak sekitar abad kedelapan. Contohnya adalah Desa Tanggung dan Kedok.

pandai-besi-pada-jaman-jawa-kuno

Bijih besi yang didapat biasanya diolah tidak jauh dari tempat tinggal. Utamanya di sekitar daerah perbukitan. Dari daerah tersebutlah mulai terbentuk industri besi rumah tangga yang menjajakan barang-barang kebutuhan seperti pisau, parut, loyang dan cetakan kue serta alat-alat pertanian.

Posisi pandai besi di masa lampau cenderung unik. Sebagian menganggapnya tak lebih dari sekedar tukang, karena memang keahliannya terbilang rendah. Namun disisi lain pandai besi juga dijatuhi kedudukan penting. Bahkan menyandang gelar ‘empu’ yang jelas tidak disematkan kepada setiap orang.

Pandai Besi, Pencipta Kekuasaan

Barang-barang dari logam dulu dianggap sebagai wujud penciptaan kekuasaan. Karena itulah keahlian mengolah besi cukup diperhitungkan. Sebab alat-alat berbahan logam tadinya digunakan dulu untuk berperang, sebelum kemudian dipakai sebagai sarana pertanian.

Selain itu, logam (terutama besi) secara umum dianggap sebagai perlambang kekuatan dan keteguhan. Mengolah besi tidak sekedar butuh keahlian kasar, tetapi juga kehalusan rasa dan batin agar sempurna hasil tempaannya.

Jadi tidak heran bila sebagian masyarakat menganggap pandai besi sebagai kalangan yang memiliki aura suci. Pada jaman Majapahit, mereka bahkan dikumpulkan di ibukota dan dilindungi raja serta dijamin kesejahteraannya.

Manakala Majapahit runtuh perlahan, sebagian dari para pandai besi memilih untuk bertahan. Mereka menurunkan keahliannya secara turun temurun. Jasa para pandai besi tersebut kemudian dipakai juga oleh Kesultanan Demak dan Mataram. Perlahan mereka mulai menyebar, menggunakan keahliannya untuk memperkuat persenjataan.

Dua kakak beradik yang termasuk pandai besi tersohor adalah Empu Supo dan Empu Suro. Bersama sejumlah pelarian lain, mereka berangkat menuju selatan dan menghuni sebuah hutan yang dirasa aman. Hutan kosong tersebut perlahan pun berkembang menjadi sebuah desa.

Empu Supo dan Empu Suro tidak berhenti membuat berbagai macam pusaka. Termasuk keris dan tombak. Seiring dengan berdatangannya pesanan, orang-orang mulai mendatangi desa tersebut dan menyebutnya sebagai Kampung Pandean.

Sampai hari ini, nama tersebut masih bertahan. Tepatnya di sebuah desa kecil di Yogyakarta. Disana penduduk masih menurunkan keahlian menempa besi secara turun temurun. Beberapa mengaku sebagai keturunan pandai besi dari jaman Majapahit.

ayat seribu dinar

Bacaan Paling Dicari: