Sejarah Cerita Panji – Kenali Budaya Jawa

Cerita Panji merupakan salah satu warisan budaya Jawa. Berlatar belakang jaman Kediri, panji kemudian menyebar ke berbagai wilayah di Asia Tenggara.


Apa Itu Cerita Panji?

Cerita Panji adalah kisah tradisional yang berasal dari Jawa Timur. Latar belakang ceritanya kurang lebih terjadi di jaman Kerajaan Kediri, antara 1104-1222 Masehi. Kisah panji agak sulit dipaparkan, karena memiliki banyak versi yang ditulis secara berbeda. Baik di tiap jaman maupun wilayah beredarnya cerita.

Paling tidak, ada delapan versi cerita panji. Termasuk Panji Kuda Sumirang, Panji Kamboja, Panji Serat Kanda, Angron Akung, Jasakusuma, Panji Angreni Palembang, Panji Kuda Nurawangsa, dan Malat. Belum termasuk cerita-cerita rakyat seperti Ande-Ande Lumut, Kethek Ogleng, Ragil Kuning dan lain sebagainya.

Meski berlatar belakang jaman Kediri, Cerita Panji diperkirakan mulai ada pada jaman keemasan Majapahit. Sebelum atau sekitar tahun 1400-an, dalam Bahasa Jawa Pertengahan.

Naskah asli panji tidak banyak ditemukan. Tetapi terjemahannya tertulis dalam naskah melayu yang berjudul Panji Semirang. Selain itu, kisah panji juga turut tertuang dalam relief, contohnya relief Candi Penataran dan Situs Gambyok. Dengan demikian, panji diperkirakan telah mulai ada sejak sebelum tahun 1350 Masehi.

Konon, kisah panji berasal dari Kakawin Smaradahana karya Mpu Dharmaja, yang memang hidup di jaman Kediri. Bagian akhir kakawin ini mengisahkan tentang perkawinan Kameswara dengan Putri Kirana dari Janggala.

Penyebaran kisah panji di luar Jawa lebih banyak terjadi secara lisan. Lama kelamaan, cerita-cerita tersebut ditulis dalam huruf Arab-Melayu. Naskah inilah yang kemudian dikenal hingga ke daratan Asia Tenggara. Termasuk Bali, Nusa Tenggara, Sumatra, Thailand, Kamboja, dan juga Myanmar.

Dalam perkembangannya, cerita panji berkembang melalui banyak kesenian. Termasuk kesenian tari, lukis, pahat, sastra, teater, dan wayang. Meski memiliki banyak versi, kisah panji umumnya berpusat tentang kehidupan Raden Panji atau Panji Asmarabangun yang berasal dari Kerajaan Jenggala.

Raden Panji ini diceritakan sebagai titisan Dewa Wisnu. Sedangkan pasangannya, Dewi Sekartaji atau Putri Candrakirana merupakan titisan Dewi Sri. Keduanya menyatu sebagai simbol pembawa kesuburan atau keturunan.

Dilihat dari nilai sejarahnya, cerita panji harusnya cukup layak untuk diakui secara internasional. Terlebih lagi, nilainya tidak berbatas sebagai sastra saja. Tetapi juga nilai arsitektur dan unsur-unsur kehidupan.

Namun tentu saja, sebelum dunia internasional dapat mengenal dan menghargai cerita panji sebagai sebuah warisan budaya, terlebih dulu kita perlu memperkenalkannya sebagai kekayaan nasional.

kristal anti santet