Satria Piningit, Sang Ratu Adil Dalam Ramalan Jayabaya

Satria Piningit ini sebenarnya siapa? Benarkah ia akan muncul sebagai Ratu Adil bagi Nusantara, sesuai isi Ramalan Jayabaya?


Mengenal Satria Piningit

Menurut Ramalan Jayabaya, Satrio Piningit adalah sosok misterius yang bakal muncul sebagai Ratu Adil bagi Nusantara. Ia diyakini akan mengemuka pada jaman Kalabendu, atau masa ketika Nusantara sedang hancur-hancurnya.

Banyak yang percaya, banyak yang menanggapinya biasa saja. Tetapi meski telah berlalu ratusan tahun lamanya, Ramalan Jayabaya atau Jangka Jayabaya tetap menjadi pokok bahasan yang menarik untuk diperbincangkan.

Pasalnya, Ramalan Jayabaya dengan tepat menebak datangnya Bangsa Jepang ke Tanah Jawa, dalam bait yang kurang lebih berbunyi, “Orang Jawa akan diperintah oleh orang kulit putih selama tiga abad dan oleh kerdil kuning untuk masa hidup tanaman jagung sebelum kembalinya Ratu Adil…”

Ciri-Ciri Satria Piningit

Satrio Piningit digambarkan sebagai sosok tersembunyi (piningit) yang berwatak jujur, cerdas dan berperilaku lurus. Ia tidak hanya akan memimpin Tanah Jawa, tetapi juga dunia. Namun kemunculannya baru akan terjadi setelah Nusantara dilanda musibah dan bencana. Dalam hidupnya ia akan mengalami banyak kesengsaraan, kemiskinan, kesialan dan kejadian memalukan. Semua itu akan membentuknya sebagai satria agung atau Satria Wiragung.

Satrio Piningit menjabat bukan karena hasil pemilihan, tetapi revolusi besar-besaran. Orang-orang telah lama menantikan kedatangannya sebagai pemimpin.

Termasuk dalam bait-bait ramalan yang menyebutkan tentang Satrio Piningit antara lain:

Bait 140:

“Polahe wong Jawa kaya gabah den interi, endi sing bener endi sing sejati, para tapa padha ora wani, padha wedi ngajarake piwulang adi, salah-salah anemahi pati.”

Artinya:

“Perilaku orang Jawa seperti butiran-butiran padi diatas nampan yang diputar (bulir-bulir padi yang berlarian kesana-kemari saling bertabrakan), mana yang benar mana yang sejati, para pertapa tidak ada yang berani, semua takut mengajarkan ajaran baik, salah-salah bisa mati.”

Bait 141:

“Banjir bandang ana ngendi-endi, gunung njeblug tan anjarwani, tan angimpeni. Gehtinge kepathi-pati marang pandhita kang oleh pati geni, marga wedi kapiyak wadine sapa sira sing sayekti.”

Artinya:

“Banjir bandang terjadi dimana-mana, gunung meletus tak terduga, tanpa memberi isyarat sebelumnya. Bencinya sangat mendalam terhadap pendeta (orang pintar/waskita) yang menjalani tirakat tingkat tinggi, karena takut terbongkar rahasia siapa dirinya yang sejati (sebenarnya).”

Bait 159:

“Selet-selete yen mbhesuk ngancik tutuping tahun, sinungkalan dhewa wolu, angasta manggalaning ratu, bakal ana dhewa ngejawantah, apengawak manungsa, apasurya pindho bethara kresna, awatak baladhewa, agegaman trisula wedha, jinejer wolak-waliking jaman, wong nyilih ambhalekake, wong utang ambayar, utang nyawa bayar nyawa, utang wirang nyaur wirang.”

Artinya:

“Selambat-lambatnya nanti menginjak tutup tahun, (sinungkalan dhewa wolu, angasta manggalaning ratu= dipimpin delapan dewa, menjabat panglimanya raja = bisa berarti tahun sesuai candrasengkala), akan ada dewa menjelma ke dunia, berbadan manusia, bermuka seperti bethara krisna, berwatak baladewa, bersenjata trisula wedha, sejajar dengan terbaliknya jaman, orang pinjam akan mengembalikan, orang hutang akan menyahur, hutang nyawa bayar nyawa, hutang malu nyahur malu.”

Bait 161:

“Dunungane ana sikil redhi Lawu sisih wetan, wetane bengawan banyu, adhedukuh pindho Raden Gatotkaca, arupa pagupon dara tundha tiga, kaya manungsa angleledha.”

Artinya:

“Tempatnya di kaki gunung Lawu sebelah timur, sebelah timurnya sungai (Bengawan) air, berumah seperti Raden Gatotkaca, berupa rumah merpati bertingkat tiga, seperti manusia yang menggoda.”


Nah, benarkah Satria Piningit akan muncul? Atau justru sudah muncul, tanpa kita menyadarinya? Benar tidaknya isi ramalan ini, kita tetap patut bersyukur. Karena dengan adanya rasa percaya akan datangnya Sang Ratu Adil, dalam keadaan apapun orang tetap bertahan dan berjuang. Sebab ia yakin, bahwa cahaya terangnya akan segera tiba.

Toh pada dasarnya setiap peradaban mengalami hal ini. Bangkit, hancur, kemudian bangkit lagi. Sehingga perlu ada dorongan bagi orang-orang yang dinaunginya untuk selalu berbesar hati.

batu kecubung

Bacaan Paling Dicari: