Ratu Shima & Kerajaan Kalingga

Ratu Shima adalah penguasa Kerajaan Kalingga. Letak kerajaan bercorak Hindu-Buddha ini berada di pantai utara Jawa Tengah, kira-kira mencakup wilayah Jepara dan Pekalongan.


Mengenal Ratu Shima

Ratu Sima atau Maharani Shima naik tahta sekitar tahun 674 Masehi. Tepatnya setelah sang suami, Raja Kartikeyasinga, meninggal dunia. Ia naik tahta dengan gelar Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara.

Sejarah Kalingga paling banyak tercatat dalam catatan-catatan Tiongkok, tradisi setempat dan Carita Parahyangan yang disusun sekitar abad keenam belas. Kalingga terkenal sebagai kerajaan yang menerapkan aturan potong tangan bagi para pencuri.

Kerajaan Kalingga dan Kerajaan Galuh

Berdasarkan naskah Carita Parahyangan, Ratu Sima memiliki seorang putri bernama Parwati yang  kemudian menikah dengan Putra Mahkota Kerajaan Galuh. Sedangkan cucunya menikah dengan raja ketiga dari Kerajaan Galuh juga, yakni Bratasena. Dari pernikahan ini lahirlah Sanjaya yang membangun Wangsa Sanjaya (Mataram Kuno) dan berputra Rakai Panangkaran.

Candi Angin - Peninggalan Kerajaan Kalingga Ratu Shima

Candi Angin – Peninggalan Kerajaan Kalingga

Kemunculan Kalingga (atau Ho-Ling) diperkirakan terjadi sekitar abad kelima Masehi. Kemudian pada tahun 752 M, Kalingga menjadi wilayah taklukan Kerajaan Sriwijaya. Menyusul Malayu dan Tarumanagara yang sudah ditaklukkan terlebih dulu sebagai bagian dari jaringan perdagangan Hindu.

Dalam kisah masyarakat setempat, Ratu Sima terkenal menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran tanpa pandang bulu. Pernah suatu ketika seorang raja dari seberang laut menguji rakyat Kalingga yang tersohor jujur serta taat hukum. Dengan sengaja ditinggalkannya sekantong uang emas di persimpangan jalan. Tidak seorangpun berani mengambil kantong uang tersebut. Apalagi mengambil harta yang jelas bukan miliknya.

Baru tiga tahun kemudian, kantong emas ini disentuh oleh putra mahkota dengan kakinya. Ketika itu sang ratu menjatuhkan hukuman mati, namun para dewan menteri memohon ampunan atas putra mahkota tersebut. Sehingga kemudian sang pangeran tidak dihukum mati, namun dipotong kakinya.

Catatan Dinasti Tang tentang Kalingga

Cerita Cina dari jaman Dinasti Tang (618 M – 906 M) menerangkan Kalingga (Ho-Ling) sebagai Jawa, yang letaknya berada di lautan selatan. Sebelah utara Kalingga adalah Ta Hen La (Kamboja). Sedangkan di sebelah baratnya adalah Pulau Sumatra.

Ibukota Kalingga dikelilingi tembok yang tersusun dari tonggak kayu. Rajanya tinggal di sebuah istana bertingkat, beratap daun palem dan singgasananya terbuat dari gading. Daerah Kalingga menghasilkan kulit penyu, emas, perak, cula badak dan gading gajah. Sedangkan penduduknya sudah pandai membuat minuman keras dari sari bunga kelapa.

Catatan ini juga menyebutkan bahwa sejak tahun 674 Masehi, Kalingga dipimpin oleh Ratu Hsi-Mo (Shima) yang terkenal adil bijaksana. Di bawah kekuasaan Ratu Shima, rakyat Kalingga hidup aman tenteram.

puter giling