Pewarna Alami Batik, Terbuat Dari Apa?

Dulu, pewarna alami batik lebih lazim digunakan. Karena ketika itu pewarna sintetis memang belum menjadi pilihan. Nah, bagaimana cara leluhur kita mengolah pewarna kain batik ini dari bahan-bahan alami?


Macam-Macam Pewarna Alami Batik

Bayangkan betapa kreatifnya perajin batik jaman dulu. Dengan peralatan dan bahan yang masih sederhana, mereka mampu menghasilkan kain batik yang indah dan awet. Termasuk untuk proses pewarnaannya.

Bahan pewarna alami jelas tidak bisa dibandingkan dengan pewarna sintetis yang banyak dipakai sekarang. Terlebih karena pewarna tradisional ini sangat ramah lingkungan.

Adapun bahan-bahan yang dijadikan pewarna kain batik antara lain adalah:

Biji Pinang – Pewarna Batik Alami

Pinang memiliki wujud pohon yang batangnya lurus tinggi. Tanpa cabang atau ranting. Mirip kelapa, tetapi batangnya tidak bergerat atau bergerigi.

Biji buah dari pohon pinang inilah yang dapat digunakan sebagai pewarna kain. Caranya, biji pinang ditumbuk halus dan dicampur air. Warna yang dihasilkan adalah cokelat kemerahan dan hitam.

Akar Mengkudu – Pewarna Batik Alami

Tanaman mengkudu lebih dikenal buahnya, daripada akarnya. Terutama karena buah tanaman ini bermanfaat sebagai obat. Tetapi jaman dulu, akar mengkudu juga ternyata bermanfaat. Perajin batik menggunakannya untuk membuat pewarna alami merah tua dan merah kecokelatan.

Kulit Manggis – Pewarna Batik Alami

Manggis merupakan buah yang berdaging manis dan segar. Sedangkan kulit buahnya yang tebal kerap dijadikan bahan obat. Ternyata, dulu kulit manggis dipakai juga sebagai bahan pewarna kain.

Kulit manggis ini menghasilkan warna merah, biru dan merah keunguan. Cara membuatnya adalah dengan menumpuk kulit hingga halus. Kemudian direndam alkohol dan dikeringkan.

Daun Jambu Biji – Pewarna Batik Alami

Daun jambu biji mengandung senyawa yang mudah diserap kain. Rentang warna yang dapat dihasilkan antara kuning hingga kecokelatan. Biasanya, daun jambu biji ini ditumbuk dulu sampai halus. Kemudian dicampur dengan alkohol untuk menghasilkan pasta pewarna kain.

Soga – Pewarna Batik Alami

Pohon soga dapat ditemui di berbagai daerah. Bagian tanaman yang paling banyak digunakan adalah kulit pohonnya. Dari soga tegeran, dapat dihasilkan warna kuning. Soga tingi menghasilkan warna merah gelap dan kecokelatan. Sedangkan soga jambal menghasilkan warna cokelat kemerahan.

Daun Nila – Pewarna Batik Alami

Pohon nila disebut juga pohon indigo atau pohon tarum. Daunnya dapat dijadikan pewarna biru alami. Warna yang dihasilkan cenderung sangat kuat, awet dan tidak mudah pudar. Hal ini dikarenakan daun nila mengandung zat pewarna yang bersifat mengikat pada kain, manakala terkena atau berbaur dengan oksigen.

Kunyit – Pewarna Batik Alami

Kunyit memiliki warna yang khas dan kuat, makanya noda kunyit sangat sulit dihilangkan. Sehingga wajar bila kunyit kemudian dijadikan bahan pewarna kain. Untuk membuat pewarna batik dari bahan kunyit, ada dua cara yang bisa dilakukan. Pertama, kunyit dicampur dengan buah jarak dan jeruk untuk menghasilkan warna hijau tua. Kedua, kunyit dicampur dengan tarum (indigo) untuk menghasilkan warna hijau muda.

Biji Kesumba – Pewarna Batik Alami

Biji Kesumba - Pewarna Alami Batik

Biji Kesumba lazim digunakan sebagai pewarna makanan. Seperti margarin, keju, minyak salad dan ikan. Bahkan saking lazimnya, sampai hari ini pun masih banyak orang Jawa yang secara tradisional menyebut pewarna dengan istilah ‘sumba’. Tidak peduli itu pewarna kain atau pewarna makanan.

Sebagai bahan pewarna tekstil, biji kesumba menghasilkan warna merah jingga.

jimat keris semar

Bacaan Paling Dicari: