Peribahasa Jawa – Sri Gunung

Sri Gunung merupakan salah satu ungkapan atau peribahasa Jawa. Umumnya digunakan untuk menyebut sesuatu yang nampak indah dari kejauhan.


Makna Peribahasa Jawa Sri Gunung

Gunung itu indah. Gagah, anggun dan penuh wibawa bila dipandang dari kejauhan. Manis dan misterius, agung dan menawan. Namun bila didekati, tak jarang hanya celanya yang terlihat. Permukaan gunung tidaklah rata. Kadang ada bongkahan batu, jalan yang naik turun, dataran panas nan gersang, serta bekas-bekas reruntuhan lava.

Inilah yang dimaksud dalam ungkapan ‘sri gunung’. Sesuatu kadang nampak indah bila dilihat dari jauh, tetapi bukan berarti akan nampak sama indahnya bila kita sudah mendekat.

Katakanlah ada seseorang yang terlihat begitu manis bila Anda pandang dari kejauhan. Tetapi begitu Anda dekati, begitu Anda mulai familiar, maka saat itulah orang tersebut mulai nampak biasa saja. Orang yang demikian lumrah dikatakan ‘ayune sri gunung’ atau ‘baguse sri gunung’. Alias hanya nampak rupawan dari jauh saja. Makin didekati justru makin terlihat membosankan.

Mengenal Indahnya Gunung

Dalam pandangan tradisional orang Jawa, gunung adalah kediaman para dewa. Maka dari itu mereka yang ingin memperkuat daya batinnya selalu menuju ke gunung untuk bertapa. Serasa ada ketenangan, sekaligus kekuatan spiritual yang besar disana.

Tidak heran, jika gunung tetap didaki sekalipun jalannya terjal dan penuh tantangan. Medan yang menanjak, batu-batu yang berserakan, juga hutan lebat yang menghalangi jalan. Gunung tetap punya pesona, semacam daya tarik mistis yang membuat orang terpikat dan ingin mendekat.

Justru ketika menjumpai bongkahan batu tersebutlah, orang akan melihat gambaran gunung yang sebenarnya. Bahwa gunung itu berkelok, gunung itu terjal dan penuh cacat cela. Seperti halnya diri manusia. Kadang nampak indah dari luar, tetapi justru catat dalam dirinyalah yang menjadikan seorang manusia nyaris sempurna.

Keindahan gunung tentu saja tetap perlu disikapi secara bijak. Karena selain menyimpan potensi, gunung juga tak jarang menyimpan bahaya. Di dasar gunung berapi ada magma dan lava pijar yang bergelora. Siap membumihanguskan segala bila nanti menyembur pada waktunya.

Bahaya tersebut dapat dilihat sebagai sebuah harga. Harga untuk mendapatkan tanah yang subur bagi penduduk di sekelilingnya. Tidak heran, bila sepanjang sejarah ada banyak peradaban yang terbangun di dekat gunung berapi. Sekalipun letusannya membawa korban yang tidak sedikit.

Inilah yang barangkali ingin diajarkan nenek moyang kita lewat ungkapan ‘sri gunung’. Bahwasannya sesuatu yang indah itu perlu dicintai beserta seluruh cacat celanya. Karena di balik semua yang menyilaukan mata, tiap-tiap hal pasti punya kekurangan.

puter giling

Bacaan Paling Dicari: