Pecahnya Kesultanan Mataram Menjadi Jogja dan Solo – Bag. I

Kesultanan Mataram didirikan pada sekitar abad keenam belas. Kerajaan Islam di Pulau Jawa ini dipimpin oleh cabang ningrat Majapahit, dari keturunan Ki Ageng Sela dan Ki Ageng Pemanahan.


Meski sempat berjaya, namun usia Mataram tidak seberapa lama. Konflik demi konflik terus terjadi, hingga akhirnya Mataram harus dibagi dua. Antara Yogyakarta dan Surakarta.

Masa Kejayaan Kesultanan Mataram

sultan-agung-kesultanan-mataramRaja pertama yang berkuasa di Mataram Islam adalah Panembahan Senopati alias Sutawijaya. Panembahan Senopati sendiri merupakan putra Ki Ageng Pemanahan. Masa kejayaan Mataram terbangun di bawah kepemimpinan Raden Mas Rangsang, atau yang dikenal bergelar Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma (Sultan Agung).

Dibawah kepemimpinan Sultan Agung inilah, Kerajaan Mataram melakukan ekspansi untuk memperluas pengaruhnya di Pulau Jawa. Ketika itu, wilayah Mataram mencakup Pulau Jawa dan Madura. Kurang lebih daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta dan Madura saat ini.

Sepeninggal Sultan Agung, Kerajaan Mataram Islam banyak mengalami kemunduran. Puncak kemunduran ini adalah ketika Mataram akhirnya harus terpecah menjadi dua. Adapun dua pecahan tersebut hari ini kita kenal sebagai Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Surakarta (Solo).

Awal Mula Kejatuhan Mataram Islam

amangkurat-i-kesultanan-mataramJatuhnya Mataram berawal sejak Amangkurat I menggantikan Sultan Agung. Ia naik tahta dengan gelar Sri Susuhunan Amangkurat Agung. Pada masa kekuasaan Amangkurat I inilah, Keraton Mataram dipindahkan dari Karta (sebelah barat daya Kota Gede) ke Plered (kini daerah Bantul) pada tahun 1647.

Amangkurat I menjalin hubungan dagang dengan perusahaan Belanda, yakni VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Padahal VOC merupakan musuh utama Sultan Agung, ayah Amangkurat I sendiri.

Pada tahun 1646 diadakan perjanjian yang antara lain mengijinkan VOC untuk membuka pos-pos dagang di wilayah Mataram. Sebagai imbalannya, Mataram diijinkan berdagang ke pulau-pulau lain yang menjadi wilayah kekuasaan VOC.

Selain perjanjian dagang ini, kedua belah pihak juga melakukan pembebasan tawanan.

Pemberontakan Trunojoyo

Kondisi pemerintahan pada masa Amangkurat I cenderung kurang stabil. Terjadi banyak pemberontakan, baik dalam skala kecil maupun besar. Banyak pihak merasa tidak puas dengan kebijakan raja.

Ketidakpuasan ini memuncak ketika Raden Trunojoyo dari Madura melakukan pemberontakan besar-besaran. Tujuannya adalah untuk menggulingkan kekuasaan Amangkurat I.

Menyusul tergulingkannya kekuasaan Amangkurat I, Raden Trunojoyo bersembunyi di Tegalarum. Menurut Babad Tanah Jawi, dalam masa pelarian inilah Amangkurat I meninggal dunia. Sebelum menghembuskan napas terakhir, Amangkurat I menunjuk Adipati Anom sebagai penerusnya. Adipati Anom (yang ketika itu merupakan putra mahkota) menerima wasiat agar menumpas Pemberontakan Trunojoyo.

Hal inilah yang kemudian membuat Adipati Anom bekerja sama dengan VOC. Antara lain adalah agar VOC bersedia membantu menumpas pemberontakan yang terjadi. Perjanjian Jepara (1677) ditandatangani, yang berisi kesediaan VOC untuk membantu Adipati Anom melawan Trunojoyo.

Sebagai imbalannya, VOC diberikan hak untuk melakukan monopoli perdagangan di Pantai Utara Jawa.

Dengan bantuan VOC inilah, Adipati Anom berhasil naik tahta dengan gelar Amangkurat II. Pusat kerajaan ditetapkan di Wanakerta, yang diberi nama Kartasura. Sedangkan Raden Trunojoyo kemudian berhasil ditangkap dan dihukum mati awal tahun 1680.

Meski Pemberontakan Trunojoyo berhasil ditumbas, namun konflik masih terus saja terjadi. Sebab kalangan istana cenderung tidak puas melihat kepatuhan Amangkurat II terhadap VOC.

Baca selanjutnya di Pecahnya Kesultanan Mataram – Bagian II

jimat pelarisan

Bacaan Paling Dicari: