Patung Loro Blonyo, Simbol Kebahagiaan Rumah Tangga

Loro blonyo adalah salah satu jenis patung tradisional dari Jawa. Seni pahat ini mewakili penyatuan antara laki-laki dan perempuan.


Apa itu Patung Loro Blonyo?

Loro blonyo berwujud sepasang patung pengantin. Biasanya ditemukan di rumah-rumah joglo khas Jawa. Patung ini berbeda dari kebanyakan patung tradisional lain. Terutama bila dilihat dari fungsi, bentuk dan cara menempatkannya.

Saat ini sendiri penempatan loro blonyo sudah tidak seperti kaidah lama jaman dulu. Bentuk dan model patungnya pun cenderung berubah. Tidak lagi sakral ataupun simbolik.

Dulu, patung loro blonyo ditempatkan di senthong tengah. Sebab ruangan inilah yang dianggap sebagai titik paling sakral sebuah rumah. Karena kesakralannya, senthong tengah dipakai pula untuk menyimpan padi. Disana terdapat dipan (tempat tidur beratap limasan, berkelambu, dan bertiang empat) serta barang-barang pelengkap lain. Tepat di depan dipan inilah, patung tadi diletakkan.

Sejarah Patung Loro Blonyo

Sejarah panjang loro blonyo sudah mulai ada sejak agama Hindu masih mendominasi pulau Jawa. Tetapi kemudian penggunaan dan wujudnya dimodifikasi sedemikian rupa, ke dalam bentuk sepasang pengantin.

Hanya kaum priyayi yang pada masa itu dapat memiliki patung ini. Namun seiring perkembangan jaman, kini keberadaannya lebih dianggap sebagai penghias dan pemanis yang simbolis. Bukan patung sakral yang diistimewakan. Banyak pemilik rumah yang menempatkannya di luar kamar. Bahkan di ruang tamu atau ruang keluarga.

Kata ‘loro’ artinya dua atau sepasang. Sedangkan ‘blonyo’ artinya diurapi dengan air bunga. Arti nama patung ini adalah sepasang pengantin yang beraroma wangi bunga. Si patung perempuan melambangkan Dewi Sri, sedangkan patung pria melambangkan Raden Sadana.

Aksesoris Patung

Patung laki-lakinya mengenakan kuluk kanigara berwarna hitam, dengan kombinasi garis kuning yang disusun tegak dan mendatar serta melingkar. Cambangnya dibentuk rapi, dengan rambut hitam lurus bergelung dan konde tembaga keemasan.

Sepasang matanya memandang lurus ke depan dengan posisi kepala tegak. Alisnya tebal, tergaris tegas hitam dan melingkar mengikuti bentuk mata. Hidungnya berbentuk mbengkok sumendhe (tidak mancung dan tidak pesek), sedangkan bibirnya tipis kemerahan.

Pada lehernya terkalung rantai kecil memanjang. Tangannya berada dalam posisi ngapu rancang, dihias gelang keemasan pada pergelangan tangan. Termasuk kelengkapan busananya adalah stagen dan sabuk kuning emas bermotif geometris. Keris tersemat di pinggang belakang dan kain batik yang dipakainya bermotif batik kawung.

Untuk patung perempuan, pandangan matanya agak menunduk. Alis matanya hitam dan dahinya dihias paes. Gelungannya bermahkota dan telinganya dihias subang berwarna putih dan keemasan.

Leher si mempelai wanita dihias kalung rantai berbandul besar tingkat tiga. Telapak tangan menempel pada paha, selayaknya sikap hormat yang umum dilakukan para wanita. Tangannya juga dihiasi gelang berwarna kuning. Dadanya dibungkus kemben dan perutnya dililit stagen bersabuk emas. Posisi kaki timpuh, berbalut kain batik motif kawung.

Secara garis besar, warna patung loro blonyo adalah kuning keemasan. Atau bersemu cokelat. Layaknya warna luluran khas manten Jawa. Keduanya melambangkan sepasang pengantin tradisional yang berhias secara makmur.

batu kecubung

Bacaan Paling Dicari: