Pasemon Praja – Cara Orang Jawa Menyindir Penguasa

Pasemon bisa dikatakan sebagai versi Jawanya alusio. Teknik berbahasa ini membandingkan satu obyek dengan obyek yang lain, secara halus, semu dan tak langsung.

Pada masanya, pasemon inilah yang dipakai untuk menuturkan nasehat dan petuah.


Mengenal Pasemon Praja

Kurang lebih, seperti inilah cara masyarakat Jawa melontarkan sindiran. Lewat penilaian atau kritik halus yang penuh lambang, hampir tak terbaca. Terlebih lagi bila yang disindir adalah penguasa. Maka muncullah yang kemudian disebut Pasemon Praja.

Jadi pada dasarnya, pasemon praja adalah sindiran yang ditujukan kepada penguasa. Lewat perbandingan kata dan bahasa.

Sebagai contoh, berikut adalah beberapa pasemon praja yang selama ini terdengar di kalangan masyarakat:

  1. Catur rana semune segara asat, artinya ‘empat medan pertempuran layaknya samudera kering’. Empat medan yang dimaksud adalah Kerajaan Jenggala, Kediri, Singasari dan Urawan. Pasemon ini muncul mengingat keempat kerajaan tersebut gemar berperang, yang akhirnya malah menghabiskan kekayaan negara.
  2. Ganda kentir semune liman pepeka, artinya ‘bau yang hanyut seperti gajah yang terlena’. Perumpamaan ini secara khusus menyindir Raja Pajajaran, yakni Sri Pamekas. Ia dinilai kurang waspada, sehingga berakhir mati di tangan anaknya sendiri dan jasadnya dihanyutkan ke sungai.
  3. Macan galak semune curiga kethul, artinya ‘harimau buas layaknya semata yang tumpul’. Adalah Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit yang disindir lewat perumpamaan ini. Sebab Brawijaya V merupakan raja yang berpengaruh, tetapi tidak sanggup memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya.
  4. Lunga perang putung watange, artinya ‘berangkat berperang, namun patah busurnya’. Merujuk pada Kesultanan Demak yang berhasil menaklukkan para adipati pemeluk agama lama. Namun sebagai harganya, banyak wali dan ahli agama mereka yang gugur di medan perang.
  5. Alelungan datan kongsi bebasahan kaselak kampuhe bedhah, artinya ‘bepergian belum sempat memakai pakaian kebesaran, namun terlanjur ikat pinggangnya jebol’. Adalah Jaka Tingkir yang disindir lewat perumpamaan ini. Ia berjuang panjang untuk mencapai kekuasaan. Namun ketika tiba masanya ia berkuasa, Jaka Tingkir sudah terlalu tua dan meninggal tak lama kemudian.
  6. Sura kalpa semune lintang sinipat, artinya ‘pohon besar layaknya bintang kepagian’. Perumpamaan ini ditujukan untuk Panembahan Senopati, atas keberanian dan upayanya dalam menaklukkan berbagai wilayah. Namun sebelum keinginannya ini tercapai, ia sudah mangkat lebih dulu.
  7. Kembang sempol semune lebe kekethu, artinya ‘bunga teratai layaknya seorang kaum berkopyah’. Lain daripada yang lain, pasemon ini tidak ditujukan untuk menyindir. Tetapi justru memuji Sultan Agung yang dianggap tekun menjalankan perintah agama. Sultan Agung pula lah yang mengganti penanggalan Jawa berdasarkan peredaran bulan, dari yang sebelumnya didasarkan pada peredaran matahari.
  8. Kalpika sru semune kenaka putung, artinya ‘cincin yang kekecilan layaknya kuku yang patah’. Amangkurat I termasuk mendapatkan perumpamaan yang paling buruk. Karena memang selama masa kekuasaannya, Mataram diliputi banyak tragedi dan intrik. Serta pembunuhan dan pemberontakan.
  9. Layon keli semune satriya brangta, artinya ‘mayat yang hanyut layaknya satriya berduka’. Seperti halnya sang ayah, Amangkurat II juga tersindir pedas. Ia naik tahta pada saat keraton tengah berduka. Ayahnya buron, dikejar-kejar musuh hingga meninggal jauh dari istananya sendiri.
batu giok pengasihan

Bacaan Paling Dicari: