Motif Batik Parang, Apa Saja Jenis dan Maknanya?

Motif batik Parang adalah salah satu motif batik paling tua. Kata Parang ini sendiri berasal dari istilah ‘pereng’, yang bermakna lereng atau tebing. Sehingga motif parang secara umum memiliki bentuk garis diagonal.


Makna Motif Batik Parang

Batik memiliki beragam motif, seperti yang dapat Anda simak dalam Motif Batik Nusantara. Salah satu motif tersebut disebut motif Parang, dimana terdapat susunan bentuk  layaknya huruf S yang saling mengait dan menjalin. Jalinan ini melambangkan kesinambungan serta semangat yang tidak pernah padam, dan secara khusus diadaptasi dari bentuk ombak lautan.

Batik Parang ada beberapa jenis, antara lain:

  1. Batik Parang Rusak

motif-batik-parang-rusak

Motif ini diciptakan oleh Panembahan Senopati ketika bertapa di Pantai Selatan. Inspirasinya adalah ombak yang tidak pernah lelah menghantam karang, seperti halnya manusia yang selalu berjuang melawan kejahatan dan memuliakan kebijaksanaan.

Pada masa lampau, motif ini hanya boleh dipakai oleh ksatria dan bangsawan. Sebab motif parang rusak menyimbolkan kekuasaan dan kekuatan. Proses pembatikannya pun harus tenang, sabar serta teliti. Konon, kesalahan dalam proses pembatikan ini dapat mengakibatkan hilangnya kekuatan gaib dari batik yang bersangkutan.

  1. Batik Parang Rusak Barong

motif-batik-parang-barong

Motif Parang Rusak Barong dikembangkan dari motif parang, dengan ciri khas berupa ukurannya yang lebih besar. Pencipta motif ini adalah Sultan Agung Hanyakrakusuma. Makna motif Parang Rusak Barong adalah pengendalian diri, usaha yang dinamis, kebijaksanaan dan kehati-hatian dalam bertindak.

  1. Batik Parang Klitik

motif-batik-parang-klitik

Parang Klitik memiliki bentuk stilasi yang lebih halus. Bentuknya lebih sederhana dengan ukuran lebih kecil. Motif ini menggambarkan citra feminin, kelembutan dan perilaku gemulai. Pada masanya, motif parang klitik dikenakan oleh putri-putri raja.

  1. Batik Parang Kusuma

motif-batik-parang-kusumo

Parang bermakna lereng, sedangkan Kusuma bermakna bunga. Dulu, motif Parang Kusuma hanya boleh dipakai oleh keturunan raja ketika berada dalam lingkup keraton. Makna motif ini adalah bahwa hidup harus dilandasi dengan perjuangan untuk mendapatkan keharuman lahir batin. Taat pada norma yang berlaku dan mampu membawa diri serta berperilaku santun.

  1. Batik Parang Tuding

motif-batik-parang-tuding

Kata ‘tuding’ artinya telunjuk atau menunjuk. Motif Parang Tuding memiliki bentuk seperti jari telunjuk yang disusun berjajar. Maknanya adalah barang siapa yang mengenakan motif ini diharapkan dapat menjadi teladan, petunjuk dan mampu menunjukkan hal baik bagi anak cucunya.

  1. Batik Parang Curigo

motif-batik-parang-curigo

Istilah ‘curigo’ merujuk pada bilahan keris tanpa warangka. Bentuk keris ini nampak dalam motif parang curigo yang memang mirip luk keris. Ciri khasnya, pola batik ini disusun sejajar bersudut 45 derajat. Ditambah dengan ragam hias berupa bentuk belah ketupat yang juga sejajar dengan hiasan utama parang. Ragam hias ini disebut mlinjon.

Dengan mengenakan batik motif Parang Curigo, diharapkan pemakainya akan memiliki kecerdasan, kewibawaan dan ketenangan hati.

  1. Batik Parang Centung

parang-centong-atau-centung

Centung atau centong adalah piranti masak yang digunakan untuk mengambil nasi. Istilah ini sekaligus bermakna ‘wis cetha macak’ atau sudah pandai merias diri. Motif Parang Centung cocok dikenakan oleh mereka para wanita yang sudah beranjak dewasa.

  1. Batik Parang Pamor

motif-batik-parang-pamor

Dalam Bahasa Jawa, arti kata ‘pamor’ adalah aura atau energi yang dipancarkan seseorang. Harapan dikenakannya motif Parang Pamor adalah agar aura seseorang terpancar keluar (wis pecah pamore). Sehingga nampak lebih berwibawa dan rupawan.

Selain kedelapan motif ini, batik parang masih memiliki sejumlah ragam lain. Termasuk Parang Slobok, Parang Gendreh, Parang Srimpi, Parang Canthel dan jenis parang kombinasi yang disebut Parang Seling.

Bacaan Paling Dicari: