Misteri Ramalan Sabdo Palon

Masih ingat ramalan sabdo palon? Yang tidak hanya dikaitkan dengan keruntuhan Majapahit, tetapi juga dengan berbagai bencana alam yang melanda Pulau Jawa? Ada apa sebenarnya dengan ramalan jawa ini, dan siapa sesungguhnya sabda palon itu?


Siapakah Sabdo Palon?

sabdo palon noyo genggongSabdo Palon adalah penasehat spiritual Tanah Jawa. Ia hidup di segala jaman, bukan sebagai satu orang dengan satu nama. Melainkan sebagai pembimbing Jawa sejati dengan banyak wadag atau raga yang berbeda di setiap generasinya.

Tokoh spiritual lain yang kerap dikaitkan dengan Sabda Palon adalah Naya Genggong atau Noyogenggong. Keduanya dianggap sebagai penggambaran dua satuan, Hindu dan Buddha (Syiwa Buddha).

Ramalan Sabdo Palon dan Letusan Gunung Merapi

Pada tahun 2010, terjadi letusan Gunung Merapi yang mengakibatkan sedikitnya 353 orang korban jiwa, termasuk juru kunci Merapi sendiri. Banyak orang meyakini bahwa sesungguhnya Ramalan Sabdo Palon telah menulis tentang bencana ini, lebih dari lima abad silam.

Lebih jelasnya silakan Anda simak dalam sebait ramalan berikut, yang ditulis pada sekitar abad kelima belas.

.
Sanget-sangeting sangsara,

Kang tumuwuh tanah Jawi,

Sinengkalan taunira,

Lawang Sapto Ngesthi Aji,

Upami nabrang kali,

Prapteng tengah-tengahipun,

Kaline banjir bandang,

Jerone nyilepake jalmi,

Kathah sirna manungsa kathah pralaya.

 

(Ramalan Sabdo Palon dalam salah satu bait tembang Sinom)

.

Terjemahan:

Sangat-sangatnya sengsara,

Yang timbul di tanah Jawa

Ditandai pada tahun,

Sembilan Tujuh Delapan Satu

Seumpama menyeberang sungai

Sampai di tengah-tengahnya

Sungainya banjir bandang

Dalamnya menenggelamkan manusia

Banyak manusia mati, banyak bencana.

.

Keterangan pembacaan ramalan:

  • Sejarah Sabdo Palon berlatar belakang masa pemerintahan Raja Brawijaya V, penguasa Majapahit yang memerintah sampai tahun 1478.
  • Sabdo Palon dalam Serat Darmogandhul secara jelas menyebutkan, “ Lima ratus tahun setelah hari ini.” Dengan demikian 500 tahun ditambah 1478 adalah 1978 (lihat bait keempat, 1879 dapat dibaca 1978 menurut pembacaan tertentu. Pada tahun inilah Gunung Semeru meletus).
  • Sebelum moksa (lenyap), Sabdo Palon dan Noyo Genggong berkata, “Dan ingatlah keharuman air wangi nanti akan bertahan selama 500 tahun dan 4 jaman.” Hitungan jaman dalam penanggalan Jawa yang paling dekat adalah windu (delapan tahun). Empat jaman berarti 4 kali 8 tahun, sama dengan 32 tahun. Bila dijumlah, 1978 ditambah 32 berarti 2010.
  • Pada tahun 2010 tersebutlah, Gunung Merapi meletus.

Sabda Palon, Simbol Kesetiaan Rakyat Terhadap Pemimpin

Sejumlah ahli menerangkan bahwa tugas terakhir Sabdo Palon adalah ngemong Prabu Brawijaya di Majapahit. Tertulis dalam Serat Darmagandhul, suatu tembang macapat kesusastraan Jawa Baru berbahasa Jawa ngoko, bahwa Sabdapalon tidak bisa menerima sewaktu Prabu Brawijaya digulingkan oleh Demak pada tahun 1478.

Dengan demikian, Sabda Palon memilih mengundurkan diri. Memilih untuk berpisah dengan momongannya. Ia kemudian memutuskan untuk bertapa tidur di kawah Merapi selama 500 tahun.

Bila ditilik lebih jauh, Sabdo Palon merupakan simbol penerimaan Kejawen terhadap Islam di Tanah Jawa. Juga simbol atau personifikasi kesetiaan rakyat terhadap raja. Terhadap pemimpin yang bijaksana.

Pilihan Sabdo Palon untuk berpisah dari momongannya sendiri merupakan pertanda bahwa rakyat sudah tidak lagi memiliki kesetiaan dan kepercayaan terhadap figur Majapahit tersebut.  Memang, ada beberapa hal yang tercatat menjadikan awal keroposnya nilai kepemimpinan Brawijaya kala itu.

Baca selengkapnya tentang Sabdo Palon…

kristal anti santet

Bacaan Paling Dicari: