Mengenal Rangga Warsita, Pujangga Besar Terakhir Tanah Jawa

Rangga Warsita (atau Ronggowarsito) adalah pujangga besar yang hidup di Kasunanan Surakarta, sekitar abad kesembilan belas. Selain dikenal karena kebesaran karya sastranya, Ronggo Warsito juga dikenal memiliki kesaktian dan kemampuan meramal masa depan.


Raden Ngabehi Rangga Warsita

Ronggowarsito terlahir di Surakarta pada tanggal 15 Maret 1802, dan meninggal 71 tahun kemudian. Ia memiliki nama asli Bagus Burhan. Ayahnya adalah Mas Pajangswara, yang merupakan cucu Yasadipura II, pujangga utama Kasunanan Surakarta.

Dari sang ayah, Ronggowarsito adalah keturunan Kesultanan Pajang. Sedangkan dari pihak ibu, ia masih keturunan Kesultanan Demak. Semasa kecilnya, Ronggowarsito diasuh oleh seorang abdi bernama Ki Tanujaya.

Ketika muda Ronggowarsito dikirim untuk belajar pada pemimpin Pesantren Gebang Tinatar di Ponorogo. Sepulangnya berguru, ia diangkat cucu oleh Panembahan Buminoto yang merupakan adik Pakubuwana IV. Rangga Warsita kemudian diangkat sebagai Carik Kadipaten Anom dengan gelar Mas Pajanganom.

Ramalan Rangga Warsita

Ronggowarsito dikenal sebagai peramal ulung yang memiliki berbagai ilmu kesaktian. Dalam naskah babad ia bahkan dikisahkan mampu memahami bahasa binatang. Ini bisa jadi merupakan simbol bahwa Rangga Warsita merupakan sosok yang peka dan mau mengerti kesusahan rakyat jelata.

Sayangnya, Ronggowarsito ditemukan meninggal secara misterius pada tahun 1873. Dikatakan misterius karena tanggal kematian tersebut (24 Desember 1873) dapat ditemukan dalam Serat Sabdajati yang sebelumnya ia tulis sendiri. Sehingga pihak Kasunanan Surakarta berpendapat bahwa Ronggowarsito telah meramalkan kematiannya sendiri secara tepat.

Ronggowarsito hidup di jaman penjajahan Belanda. Ia adalah saksi betapa menderitanya masyarakat Jawa, terlebih ketika Tanam Paksa dijalankan usai berakhirnya Perang Diponegoro. Di tengah kondisi miris itulah ia meramalkan datangnya kemerdekaan pada Wiku Sapta Ngesthi Janma.

Empat kata ini tertulis dalam Serat Jaka Lodang, yang dapat dibaca berdasarkan penulisan Candrasengkala. Wiku= tujuh, Sapta= tujuh, Esthi= delapan, dan Janma= Satu. Candrasengkala merupakan tata tulis penanggalan yang dibaca dari belakang, sehingga terbaca 1877 Saka atau 1945 Masehi.

Makam Ronggowarsito pernah didatangi oleh dua presiden Indonesia, yakni Soekarno dan Gus Dur, pada masa jabatan masing-masing. Presiden Soekarno sendiri semasa hidupnya pernah menjumpai seorang petani miskin yang tetap bersemangat dalam penderitaannya. Semata-mata karena petani tersebut mengimani kebenaran ramalan Ronggowarsito perihal datangnya kemerdekaan.

Rangga Warsita dan Jaman Edan

Ronggowarsito adalah orang pertama yang memperkenalkan istilah Jaman Edan (jaman gila). Ia menggoreskannya dalam Serat Kalatida, yang terdiri dari 12 bait tembang Sinom. Adapun salah satu baitnya yang paling tersohor adalah:

“Amenangi zaman édan,

éwuhaya ing pambudi,

mélu ngédan nora tahan,

yén tan mélu anglakoni,

boya keduman mélik,

kaliren wekasanipun,

ndilalah kersa Allah,

begja-begjaning kang lali,

luwih begja kang éling klawan waspada.”

 

Artinya:

 

“Menyaksikan zaman gila,

serba susah dalam bertindak,

ikut gila tidak akan tahan,

tapi kalau tidak mengikuti (gila),

tidak akan mendapat bagian,

kelaparan pada akhirnya,

namun telah menjadi kehendak Allah,

sebahagia-bahagianya orang yang lalai,

akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.”

Oleh seorang penulis bernama Ki Sumidi Adisasmita, syair tersebut ditafsir sebagai ungkapan kecewa Ronggowarsito kepada Pakubuwana IV. Sang Susuhunan cenderung hidup dikelilingi para penjilat yang hanya tahu bagaimana mencari keuntungan pribadi. Sampai hari ini pun, syair Kalatida masih masuk akal. Ada begitu banyak pejabat yang hanya mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Tidak peduli bahwasannya keuntungan tersebut membawa kerugian bagi pihak lain, terutama rakyat.

Karya-Karya Rangga Warsita

Ronggowarsito diangkat menjadi Panewu Carik Kadipaten Anom, dengan gelar Raden Ngabehi Rangga Warsita, menggantikan ayahnya yang pada tahun 1830 meninggal di penjara Belanda. Kemudian sepeninggal Yasadipura II, ia diangkat menjadi Pujangga Kasunanan Surakarta oleh Pakubuwana VII.

Pada masa inilah, Ronggowarsito menelurkan banyak karya sastra, diantaranya:

  • Bambang Dwihastha : cariyos Ringgit Purwa
  • Bausastra Kawi atau Kamus Kawi – Jawa (beserta C.F. Winter sr.)
  • Sajarah Pandhawa lan Korawa : miturut Mahabharata (beserta C.F. Winter sr.)
  • Sapta Dharma
  • Serat Aji Pamasa
  • Serat Candrarini
  • Serat Cemporet
  • Serat Jaka Lodang
  • Serat Jayengbaya
  • Serat Kalatida
  • Serat Panitisastra
  • Serat Pandji Jayeng Tilam
  • Serat Paramasastra
  • Serat Paramayoga
  • Serat Pawarsakan
  • Serat Pustaka Raja
  • Suluk Saloka Jiwa
  • Serat Wedaraga
  • Serat Witaradya
  • Sri Kresna Barata
  • Wirid Hidayat Jati
  • Wirid Ma’lumat Jati, dan
  • Serat Sabda Jati
batu kecubung

Bacaan Paling Dicari: