Memburu Harta Karun Majapahit

Konon, Kerajaan Majapahit sebenarnya masih menyisakan harta karun terpendam. Diantaranya berupa uang keping emas, sebagaimana yang telah ditemukan di Trowulan sejauh ini.


Harta Karun Majapahit, Ada Dimana?

Cerita masyarakat yang dituturkan secara turun temurun menyebutkan, bahwa Majapahit pernah menggelar pesta besar untuk menyambut kedatangan duta dari Tiongkok. Raja yang berkuasa ketika itu, Hayam Wuruk, menyuguhkan hidangan dalam berbagai perkakas emas. Mulai dari nampan, piring hingga sendok.

Manakala menjamu tamu asing, tentunya Hayam Wuruk ingin menunjukkan bahwa Majapahit merupakan negara besar yang kaya dan patut dihormati. Karena itulah semua perkakas emas sengaja dibuang ke Kolam Segaran. Letaknya tidak jauh dari tempat dimana pesta penyambutan berlangsung.

harta-karun-majapahit-ilustrasi-kehidupan-majapahit

Ilustrasi Kehidupan Jaman Majapahit

Sebagian masyarakat beranggapan bahwa perabot emas tersebut nantinya pasti akan diambil kembali. Dicuci setelah para tamu asing meninggalkan acara. Tetapi sebagian lagi beranggapan bahwa perabotan yang dilempar ke kolam tersebut memang tidak pernah diambil, dibiarkan terbuang begitu saja.

Itulah mengapa orang masih banyak menemukan perabot emas di Kolam Segaran.

Sejauh ini, diyakini bahwa harta peninggalan Majapahit tidak hanya berupa perabot. Masih ada keping-keping uang emas di sekitar Trowulan, beserta peralatan rumah tangga kerajaan dan patung serta candi-candi.

Dari banyaknya emas yang terkubur dalam tanah inilah, muncul nama Desa Kemasan di Mojokerto, Jawa Timur. Emas dalam tanah ini dipercaya sebagai peninggalan Majapahit.

Sewaktu pelestarian situs Trowulan dirintis pertama kali, Adipati Mojokerto beserta warga setempat turut dilibatkan dalam upaya konservasi pusaka. Perintis upaya konservasi ini sendiri adalah Henry Maclaine.

Kala itu ditemukan banyak artefak dan situs terpendam. Sebagian berbalut emas. Namun Henry ditangkap ketika pendudukan Jepang terjadi, dan eksploitasi besar-besaran pun tidak terhindarkan lagi.

koin-harta-karun-majapahit

Keping Emas Majapahit

Konon, ketika itu tiap hari selalu ada emas yang ditemukan. Para pemburu harta berbondong-bondong datang, berbaur dengan warga setempat yang ikut berburu emas. Eksploitasi ini terus-menerus terjadi hingga tahun 1965. Adalah Gerakan 30 September yang membuat para warga maupun pemburu harta meninggalkan buruan mereka dan kembali bertani atau meninggalkan Indonesia.

Keraton Kerajaan Majapahit

Sampai saat ini, kompleks keraton Majapahit masih belum ditemukan. Dugaan sementara, keraton luluh ditenggelamkan lahar dan hujan abu. Terjadinya sekitar abad kelima belas, sewaktu Gunung Welirang dan Gunung Arjuna meletus.

Pondasi-pondasi, kolam istana dan keputren Majapahit sendiri ditemukan terpendam sedalam 4 meter dari permukaan tanah. Batas-batas kota ditemukan seluas 99 kilometer persegi. Terdiri dari tiga kecamatan di Trowulan (Mojokerto) dan tiga kecamatan lagi di Jombang.

Seiring jatuhnya Majapahit, para bangsawan yang beragama Hindu dipercaya lari ke Bali. Sedangkan rakyat awam (sudra) Majapahit lari ke Gunung Bromo, dimana mereka masih menganut agama Hindu sampai hari ini.

batu giok pengasihan

Bacaan Paling Dicari: