Mbah Loreng Sang Harimau Jawa

Harimau Jawa memiliki nilai sakral. Ia merupakan sosok yang dihormati sebagai raja hutan. Sehingga orang Jawa tak jarang memanggilnya sebagai Mbah Loreng, atau yang bermakna si kakek berjubah loreng.


Mistis Harimau Jawa

Ada masanya, ketika harimau tidak dianggap semata-mata sebagai ancaman. Tetapi justru keberadaannya dianggap berperan dalam menjaga ketenteraman desa yang bersangkutan. Mereka berdialog lewat isyarat-isyarat tertentu yang hanya dapat dimengerti oleh orang-orang tertentu pula.

Kawanan harimau Jawa yang tinggal di hutan konon memiliki pemimpin gaib. Simbah pemimpin inilah yang kemudian ‘mbahu reksa’ atau melindungi serta memimpin kawanannya di alam liar.

Manakala warga hendak membuka hutan (mbabat alas), maka sesepuh harus terlebih dulu membakar kemenyan dan membaca mantra. Lalu muncullah sang harimau pemimpin untuk berdialog, dimana kemudian si manusia meminta ijin untuk membuka lahan pemukiman.

Secara tradisional, diyakini bahwa harimau cenderung menghindari manusia. Tetapi interaksi antara macan dan manusia sudah ada sejak jaman dulu kala.

Kucing Keturunan Harimau Jawa

Terdapat cerita rakyat yang mengisahkan bahwa kucing rumahan sejatinya merupakan keturunan harimau hutan. Suatu ketika sang macan masuk kampung dan mencicipi terasi di rumah penduduk. Tergoda oleh rasa nikmatnya, macan kemudian menetap di pemukiman. Meninggalkan sesamanya yang masih tinggal di hutan untuk bermukim bersama manusia, sebagai kucing.

Maka bila ada harimau yang ketahuan masuk kampung, ia dianggap datang untuk menjenguk cucunya yang memilih untuk tinggal bersama manusia tersebut. Harimau ini tidak pernah memangsa ternak. Apalagi memangsa warga. Dalam sejarah kuno masyarakat Jawa, dipercaya bahwa harimau akan kehilangan rejeki selama 40 hari bila sampai memakan manusia.

Harimau Jawa Membalas Budi

Harimau juga diyakini sebagai makhluk yang kenal balas budi. Apabila ada orang yang menemukan anak harimau dan memulangkannya dengan kalung bawang merah dan bawang putih, maka sang induk akan datang kepada orang tersebut. Diletakkannya daging rusa di depan pintu sebagai ucapan terima kasih.

Harimau Jawa pada masanya terkenal bijaksana. Tidak mau mengganggu manusia, tidak mau memangsa ternak. Mereka hidup bersama kawanannya di hutan dengan aturan-aturan yang diberlakukan kepada sesama mereka sendiri. Namun sayang, nasib para harimau yang bijaksana ini kini tinggal kenangan. Harimau asli Jawa telah secara resmi dinyatakan punah karena perburuan dan pembukaan lahan.

Namun perlu dicatat, bahwa belakangan ini peneliti mulai berani menyatakan bahwa macan Jawa belum benar-benar punah. Sejumlah temuan mendasari keyakinan mereka tersebut. Sekalipun tangkapan foto terbaru belum dapat ditunjukkan sebagai bukti.

batu giok pengasihan