Makna Bubur Merah Putih Khas Jawa

Bubur merah putih disebut juga bubur sengkala. Setiap kali ada hajat selamatan, makanan tradisional ini tidak pernah terlewatkan.


Anda Sudah Tahu, Makna Bubur Merah Putih?

Bubur sengkala dibuat dari bahan beras, gula merah dan parutan kelapa. Bubur beras ini bila diwarnai dengan gula merah maka disebut bubur merah. Sedangkan bila bubur berasnya dicampur parutan kelapa maka disebut bubur putih.

Dari warna bubur inilah, muncul awal mula warna bendera Indonesia.

Bubur sengkala diperlengkap dengan berbagai jenis makanan lain. Termasuk tumpeng, lauk-pauk dan jajan pasar.

Filosofi Bubur Merah Putih

makna-bubur-merah-putih-khas-jawaBahkan sejak sebelum jaman kedatangan Islam, Hindu dan Buddha, nenek moyang orang Jawa sudah mengenal konsep ketuhanan. Sang Maha Kuasa ini disebut dalam banyak ragam. Ada yang menyebut ‘Sing Gawe Urip’ atau Yang Menjadikan Hidup. Ada yang menyebut ‘Kang Maha Kuwasa’ atau Yang Maha Berkuasa. Ada pula yang menyebut ‘Sang Hyang Maha Dewa’.

Para peneliti menyebut kepercayaan asli orang Jawa ini dengan nama ‘kapitayan’. Suatu kepercayaan dan filosofi akan adanya dzat maha kuasa yang mengatasi segala sesuatu. Seiring dengan masuknya pengaruh agama, kapitayan kemudian mendapatkan bentuk yang lebih jelas dan spesifik.

Keberadaan bubur merah putih dalam upacara selamatan, merupakan suatu sikap masyarakat Jawa untuk kembali kepada ketuhanan. Bahwa asal muasal manusia diciptakan oleh Tuhannya dari sari pati bumi. Lewat merahnya darah sang ibu dan darah putih sang Ayah, yang menjadikan si jabang bayi ini wujud ke dunia.

Sehingga makna bubur merah putih adalah sebagai ungkapan penyerahan diri kepada Tuhan. Dengan tujuan untuk memohon keselamatan dan keberkahan hidup. Sebab Tuhan lah yang mencipta, maka Tuhan pula yang dapat memberikan pertolongan. Di hadapan-Nya, manusia bukanlah apa-apa.

Ungkapan penyerahan diri ini lazimnya dibarengi dengan doa. Serta dijadikan momen untuk berbagi dengan sesama. Mensyukuri nikmat yang ada dalam nuansa kebersamaan antara sesama hamba.

Jadi bubur merah putih bukan sekedar soal aliran ataupun keyakinan. Tetapi baiknya diterima dan dilestarikan sebagai bentuk pengakuan terhadap kuasa Tuhan. Serta meneguhkan keyakinan atas pengharapan dan doa yang dilantunkan.

susuk samber lilin

Bacaan Paling Dicari: