Makam Imogiri, Persemayaman Sakral Para Raja Mataram

Makam Imogiri dibangun pada tahun 1963. Luasnya sekitar sepuluh hektar, dan dibangun sebagai lokasi pemakaman raja-raja Mataram atas ide dari Sultan Agung Hanyokrokusumo.


Sejarah Makam Imogiri

Konon kisahnya, pembangunan Imogiri bermula dari keinginan Sultan Agung untuk dimakamkan di Mekkah. Namun karena statusnya sebagai raja, maka sang sultan disarankan untuk mengurungkan niat tersebut. Agar kelak rakyatnya tetap dekat dan dapat berziarah ke makam pemimpin mereka. Lalu sebagai gantinya, Sultan Agung dibekali segenggam tanah pasir.

Segenggam pasir tadi dilemparkan dan terjatuh di area Imogiri yang saat ini masuk dalam wilayah Kabupaten Bantul. Maka di atas tanah tersebutlah, makam sakral ini kemudian dibangun.

makam-imogiri-persemayaman-para-raja-mataram

Mengunjungi Makam Imogiri

Komplek Pemakaman Imogiri sebenarnya terbuka untuk umum. Namun karena beberapa tempat dianggap suci, maka setiap pengunjung diharuskan mengikuti adat istiadat tertentu.

Pakaian yang dikenakan harus pakaian adat Jawa. Alas kaki dan perhiasan emas tidak boleh dipakai di lokasi makam. Untuk memudahkan pelaksanaan aturan ini, maka di lokasi sudah tersedia jasa persewaan pakaian Jawa bagi para pengunjung.

Memasuki Makam Imogiri

Hawa magis khas keraton memang tidak dapat dibantah lagi begitu Anda memasuki areal makam. Wewangian menyeruak, aroma dupa beserta sesajen yang senantiasa disiapkan oleh para abdi dalem.

Lewat dari gerbang, titian 409 anak tangga langsung menyambut. Di ujung tangga tersebut terdapat makam Sultan Agung yang konon katanya selalu beraroma wangi sepanjang tahun.

Tatanan anak tangga tersebut berfungsi ganda sebagai pembatas. Sisi barat diperuntukkan bagi para raja keturunan Kasunanan Surakarta. Sedangkan sisi timur diperuntukkan bagi para raja Kesultanan Yogyakarta. Sebab berdasarkan Perjanjian Giyanti yang ditandatangani tahun 1755, wilayah Mataram memang dibagi dua menjadi Surakarta dan Yogyakarta.

Komplek Makam Imogiri memiliki empat buah padasan (gentong tempat menyimpan air) yang merupakan hadiah dari kerajaan sahabat. Dipercaya bahwa air yang tersimpan dalam empat padasan tersebut berkhasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Untuk merawat padasan-padasan ini, pada abdi dalem meritualkan dan menguras keempat padasan tersebut setiap Jum’at Kliwon di Bulan Muharram.

susuk samber lilin

Bacaan Paling Dicari: