Kertas Dluwang Dalam Tradisi Tulis Orang Jawa

Istilah dluwang, oleh masyarakat Jawa banyak diartikan sebagai kertas. Padahal sebenarnya dluwang adalah jenis kertas yang saat ini terancam punah keberadaannya.


Apa Itu Kertas Dluwang?

Dluwang (atau disebut juga daluang) dapat dikatakan sebagai suatu bentuk kearifan lokal. Kertas ini dibuat dari kulit kayu pohon mulberry. Proses pembuatan dluwang sendiri cukup sederhana, yaitu dengan menumbuk atau memukul (menyamak) kulit kayu tersebut, kemudian diperam dan dijemur di bawah sinar matahari.

Jaman dulu, daluang banyak dipakai di kalangan pesantren dan pemerintahan lokal. Keberadaannya kemudian semakin memudar setelah masuknya kertas buatan pabrik dari Eropa. Daluang lantas dianggap tidak layak, baik secara praktis maupun ekonomis. Itulah yang menyebabkan kertas daluang tidak banyak ditemukan saat ini. Dulu, penggunaan dluwang tersebar dari Bandung, Garut, Sukoharjo, Pacitan, Ponorogo, Jogja, Denpasar dan Mataram.

Dluwang Dalam Tradisi Tulis Nusantara

Dalam sejarahnya, alat tulis yang dipergunakan jaman dulu umumnya berasal dari alam sekitar. Misalnya daun lontar, daun nipah, daun kelapa, kulit kayu dan kulit binatang. Sedangkan alat tulisnya antara lain lidi enau, kalam resan (paku andam) dan bambu.

Untuk daluang sendiri, ada setidaknya dua jenis tinta yang dipergunakan untuk menulis. Pertama adalah tinta karbon (terbuat dari jelaga lampu yang dicampur kanji). Kedua adalah tinta sepia (yang dihasilkan dari cumi-cumi). Selain dua jenis tinta ini, ada pula tinta yang terbuat dari getah tumbuhan dan minyak polong.

Bahan Baku Kertas Dluwang

Dluwang sebagai kertas tradisional paling baik dibuat dari kulit kayu mulberry. Tumbuhan ini dikenal mampu menghasilkan lendir yang baik dan pada masanya pernah sengaja ditanam untuk pembuatan daluang. Pohon mulberry sendiri diduga berasal dari Cina, nama lainnya di Jawa antara lain saeh, glugu/ galugu dan dhalubang.

Cara Pembuatan Dluwang:

  1. Pohon tanaman mulberry yang dijadikan bahan baku kertas tidak boleh berusia lebih dari dua tahun. Pertama, batang pohon ditebang dan dipotong menjadi beberapa bagian. Kulit kayu diambil dan diratakan menjadi lembaran dengan lebar antara 5-6 centimeter. Ambil bagian luar yang tidak berserat.
  2. Letakkan lembaran di atas balok kayu, kemudian pukul satu persatu menggunakan palu. Setelah ini kulit kayu akan memiliki panjang dua kali lipat dari ukurannya semula.
  3. Rendam lembaran kulit kayu dalam air selama setengah jam.
  4. Ambil dan pukul-pukul kembali hingga panjangnya mencapai kurang lebih setengah meter.
  5. Jemur di bawah terik matahari hingga kering.
  6. Setelah kering, rendam kulit kayu. Lalu peras, dan dilipat dalam daun pisang segar selama lima sampai enam hari untuk mengeluarkan lendirnya.
  7. Usai diperam, lembaran kertas diratakan di tas papan, kemudian ditekan-tekan hingga halus dengan menggunakan tempurung kelapa.
  8. Terakhir, lembaran kertas dibentangkan pada batang pohon pisang. Hingga kering dan kemudian mengelupas dengan sendirinya.
batu giok pengasihan