Kenali: Ilmu Kejawen dan Ajarannya Bag. I

Aliran kejawen atau ilmu kejawen bukanlah sebuah agama. Maka salah bila dikatakan bahwa penganut Islam Kejawen itu pasti berdosa. Syirik lah, sesat lah. Padahal mantra kejawen itu mantra netral, ibaratnya berdoa dalam Bahasa Jawa. Bukankah justru ajaran kejawen ini yang dulu digunakan sebagai media penyebaran Islam di Pulau Jawa?


Apa itu aliran kejawen?

Kejawen adalah seperangkat cara pandang orang Jawa beserta nilai-nilai yang menyertainya. Ilmu kejawen bukanlah kepercayaan dalam arti ketuhanan.  Kejawen bukan agama. Karena itu, di dalam kejawen  tidak ada aktivitas yang sifatnya bertujuan untuk menyebarkan ajaran kejawen itu sendiri.

tirakat kejawenSejak dulu sekalipun, ilmu kejawen kuno selalu bersifat universal. Ia bisa melekat dan berdampingan dengan agama yang dianut pada setiap jaman. Baik kitab-kitab maupun naskah kejawen tidak pernah menyatakan diri sebagai sebuah agama, meskipun dalam mistik kejawen memang dikenal beberapa lelaku yang dilakoni oleh masyarakat Jawa secara umum.

Orang Jawa mengakui keberadaan Tuhan, karena itu mereka dapat menerima kedatangan Islam. Antara agama (baik itu Islam, Kristen ataupun agama lain) dan ilmu kejawen kuno tetap dipeluk secara beriringan dengan ajaran kejawen itu sendiri.

Dalam pengakuannya terhadap keesaan Tuhan, orang Jawa mengenal istilah Sangkan Paraning Dumadhi. Artinya secara harfiah adalah ‘darimana datang dan kembalinya hamba Tuhan’, sehingga untuk menjadi orang yang mulia, dibutuhkan pengetahuan dan keteguhan tentang dari mana orang tersebut berasal, serta apa tujuan yang ingin dicapainya sebagai makhluk Tuhan.


Baca Juga :


Ada juga istilah Manunggaling Kawula Gusti yang berarti ‘bersatunya hamba dengan Tuhan’. Bukan berarti si hamba ini menjadi Tuhan, tetapi si hamba ini perlu mengembangkan dirinya agar dapat menjadi rahmat. Rahmat bagi dirinya sendiri, sekaligus rahmat bagi keluarga serta orang-orang di sekelilingnya, sebagai bagian dari ibadah terhadap Tuhan yang ia sembah.

Asal Usul Islam Kejawen

Tokoh yang dianggap sebagai ujung pangkal peletakan pondasi ajaran Islam Kejawen adalah Sultan Agung Mataram. Pembauran yang paling jelas antara lain nampak dalam upacara-upacara penting dan hari besar masyarakat Jawa. Hari-hari besar Kejawen ini tidak pernah lepas dari tiga tahapan hidup, yaitu Kelahiran, Pernikahan dan Kematian.

Pada peristiwa-peristiwa penting tersebutlah nama orang Jawa disebut bersamaan dengan nama orang tua. Caranya adalah dengan menambahkan bin atau binti sebagaimana dalam kepercayaan Islam. Termasuk dalam hari-hari besar Kejawen yang telah berbaur dengan ajaran Islam antara lain:

  • Suran, atau peringatan tahun baru yang jatuh pada tanggal 1 Sura
  • Mantenan, atau upacara pernikahan beserta seluruh prosesinya
  • Sepasaran, atau upacara kelahiran dan Aqiqah bagi yang memeluk Islam
  • Mangkat, atau upacara kematian. Termasuk di dalamnya adalah mengirim doa (kendhuri) setiap 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari dan 3000 hari.
  • Megeng Pasa, jatuh pada tanggal 28 dan 29 bulan Ruwah (Arwah), merupakan momen untuk mengirimkan doa kepada yang telah mangkat terlebih dulu. Sekaligus mengirimkan makanan lengkap kepada sosok yang dituakan dalam keluarga sebagai pengikat silaturahmi.
  • Megeng Sawal, jatuh pada tanggal 29 dan 30 bulan puasa, sebagai pengganti bagi mereka yang tidak berkesempatan pada Megeng Pasa.
  • Riadi Kupat atau Hari Raya Ketupat, jatuh di tanggal 3, 4 dan 5 bulan Sawal bagi orang tua yang ditinggalkan anaknya sebelum menikah.

Karena filsafat kejawen juga meyakini keberadaan Tuhan, maka hari besar keagamaan juga merupakan hari penting bagi penganut kejawen. Termasuk Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha, Hari Raya Jum’at, Maulid Nabi dan Sekaten (syahadatain).

Puasa Dalam Aliran Kejawen

Para penganut kejawen cenderung menyukai ajaran berpuasa dalam Islam, karena dianggap sama dan sejalan dengan ajaran leluhur tanah Jawa. Tidak ubahnya seperti bertapa. Beberapa jenis puasa yang banyak dilakoni untuk memperingati tanggal tanggal tertentu adalah Pasa Weton (puasa sesuai hari kelahiran menurut penanggalan Jawa), Pasa Sekeman (puasa senin dan kamis), Pasa Wulan (puasa tiap tanggal 13, 14 dan 15 penanggalan Jawa), Pasa Dawud (puasa berselang seling, sehari puasa sehari tidak), Pasa Ruwah (puasa pada hari hari bulan Arwah), Pasa Sawal (puasa enam hari pada bulan Sawal, kecuali tanggal 1), Pasa Apit Kayu (puasa 10 hari pertama pada bulan kedua belas kalender Jawa) dan Pasa Sura (puasa di bulan Sura tanggal 9 dan 10).

Sedangkan jenis puasa yang dilakoni berdasarkan hajat atau tujuan tertentu, antara lain adalah:

  • Pasa Mutih atau Puasa Mutih, hanya makan nasi putih dan air putih. Tanpa rasa.
  • Pasa Patigeni atau Puasa Patigeni, tidak makan, tdak minum dan tidak tidur serta tidak menyalakan penerangan apapun.
  • Pasa Ngebleng atau Puasa Ngebleng, tidak boleh makan atau minum, tidak keluar kamar dan hanya boleh tidur sebentar saja.
  • Pasa Ngalong atau Puasa Ngalong, tidak makan atau minum tetapi boleh tidur sebentar dan masih boleh keluar ruangan.
  • Pasa Ngrowot atau Puasa Ngrowot, tidak boleh makan apa yang pernah bernyawa.

Masing-masing jenis puasa tersebut diamalkan sebagai usaha batin saja, sebagai pendamping usaha nyata dalam kehidupan sehari-harinya. Dari kemauan untuk menjalankan amalan inilah, orang Jawa pada jaman dahulu dapat dinilai kesungguhannya dalam berupaya dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Baca selanjutnya di Kenali Ilmu Kejawen Bagian II

kristal anti santet

Bacaan Paling Dicari: