Isi Serat Gatholoco Tentang Setan Dalam Diri Manusia

Serat Gatholoco adalah karya sastra kontroversial. Berasal dari penghujung abad kesembilan belas, ketika Sastra Jawa Baru begitu marak.


Petikan Serat Gatholoco

Basa setan iku seta

Asaling bibit sakalir

Wujudingsun duk ing kuna

Punika asale putih

Lamun durung mangreti

Iya iku asal ingsun

Purwa saking sudarma

Tumeka kalamullahi

Sayektine ingsun asal kama pethak

Artinya:

Setan itu artinya seta (putih)

Bibit semua manusia

Wujudnya pertama kali

Berwarna putih

Maka ketahuilah

Itulah asalku

Berasal dari orang tua laki-laki

Hingga kelak aku harus lebur

Sesungguhnya aku berasal dari kama pethak (air mani putih)

(Serat Gatholoco: 3: 57)

Setidaknya menurut Serat Gatholoco, manusia tidak mungkin kerasukan setan. Sebab setan itu memang ada dalam diri manusia. Keberadaannya akan tetap bertahan, dan bahkan beranak-pinak, selama manusia masih belum mencapai kesadaran sejatinya.

Setan tak lain adalah unsur negatif dalam diri kita. Bukan sosok yang berkeliaran di luar badan, dan lantas berbisik di telinga agar kita berbuat dosa. Setan yang demikian hanyalah setan dalam makna metafora.

Pada kenyataannya setan merupakan pikiran dan perasaan liar yang merangsek dalam kesadaran. Sehingga kita terjerumus dalam kebodohan, kefanatikan, iri hati, kecemasan dan segala sifat buruk lainnya. Selayaknya bila seseorang ingin melihat wujud setan, ia cukup berdiri di depan cermin.

Antara Setan dan Kesadaran Diri

Ketika seseorang beranggapan bahwa setan adalah unsur di luar badannya, maka akan mudah bagi dirinya untuk menyalahkan orang lain. Mengkambinghitamkan siapapun itu demi menutup kesalahan yang ia perbuat sendiri.

Menyalahkan orang jadi terasa gampang. Meski sekedar untuk mencari pembenaran atas hal buruk yang dilakukan. Bila kita bicara dalam konteks spiritual, maka setan inilah yang kerap menjadi kambing hitam.

Padahal setan tidak bersembunyi dalam kegelapan. Tidak membisiki telinga kita dengan dosa. Karena setan itu memang ada dalam diri kita. Dan selamanya kita belum dapat melampaui setan tersebut, maka ia akan tetap bertahan disana.

Manusia itu tempatnya salah. Jadi wajar bila manusia melakukan kesalahan. Hanya menjadi tidak wajar, bila kemudian ia melemparkan kesalahan itu pada orang lain. Mencari pembenaran, berusaha meringankan hukuman atas dirinya dengan berbagai cara. Selama hal yang demikian ini masih dilakukan, maka selama itu pula si manusia masih belum bisa melampaui setan di dalam dirinya.

puter giling

Bacaan Paling Dicari: