Filosofi Turi Putih

Turi-turi putih

Ditandur ning kebon agung

Turi-turi putih

Ditandur ning kebon agung

Cumleret tiba nyemplung

Gumlundhung kembange apa

Mbuk ira, mbuk ira

Mbuk ira kembange apa?


Turi-Turi Putih, Tembang Pitutur Walisanga

Ada masanya, ketika seni dan budaya marak dijadikan media penyebaran agama. Termasuk syair atau tembang satu ini. Turi-Turi Putih, yang konon digubah oleh Sunan Giri. Atau yang oleh sebagian orang diyakini juga sebagai karya Sunan Kalijaga.

Di dalam bunga turi ada makna dan pelajaran yang dapat digali. Terutama dalam kaitannya dengan kematian. Bahwa sebelum manusia berbungkus kain kafan, harus dipastikan ia memiliki cukup bekal yang mapan.

Adapun yang dimaksud turi putih sendiri adalah bunga dari pohon turi. Ukuran tanaman ini terbilang kecil, serta lumrah ditemukan di negara-negara Asia Tenggara. Termasuk Indonesia.

Ranting pohon turi berbentuk menggantung, dengan kuncup bunga menyerupai sabit. Warnanya putih agak kemerah-merahan. Ketika mekar, kelopaknya membesar hingga keluar dari ranting. Warnanya kemudian nampak putih bersih dan merekah layaknya kupu-kupu.

Umumnya, bunga turi dimasak sebagai sayuran. Entah itu dikukus atau direbus dengan siraman bumbu kacang.

Filosofi Bunga Turi Putih

Kurang lebih, makna tembang Turi-Turi Putih adalah sebagai berikut:

  • Turi-turi (dari kata tak aturi) artinya saya beritahu. Sedangkan putih adalah kiasan untuk warna kain kafan. Maknanya, adalah pengingat atau pemberitahuan bahwa semua manusia pada akhirnya akan mati.
  • Ditandur ning kebon agung, artinya ditanam di sebuah taman yang megah. Maknanya, setelah mati maka jasad akan dipendam dalam kubur atau pemakaman.
  • Cumleret tiba nyemplung, artinya melesat sekecepatan cahaya, lalu jatuh ke lubang. Maknanya, hidup itu singkat. Seperti laju cahaya yang melesat. Kemudian setelahnya manusia akan masuk liang lahat.
  • Mbuk ira kembange apa, artinya yang dijatuhkan itu membawa bunga apa? Bait ini mempertanyakan tentang amal perbuatan yang dibawa si mayat menuju kematiannya.

Pada dasarnya, tembang ini mengingatkan bahwa tiap-tiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban setelah ia mati. Bekal apa yang dibawa ke alam kubur? Telah cukupkah amal baiknya untuk menyelamatkan diri dari panas api neraka?

Bacaan Paling Dicari: