Filosofi Semar, Seperti Apa?

Filosofi Semar sangat erat kaitannya dengan unsur-unsur ketuhanan masyarakat Jawa. Tokoh wayang Semar tidak hanya mengajarkan tentang keesaan Tuhan, tetapi juga tentang kepasrahan manusia sebagai hamba.


Siapa itu Semar?

Semar adalah pembimbing, penasehat para raja tanah Jawa pada masanya. Dalam cerita pewayangan ia dikisahkan sebagai Lurah Karangdempel, dimana kata ‘karang’ bermakna gersang dan kata ‘dempel’ bermakna keteguhan jiwa.

filosofi semar dalam kaligrafi semarDari sini saja, jelas bahwa salah satu filosofi Semar mengajarkan kita untuk mempertahankan jati diri. Menyadari dan menerima siapa diri kita, dimanapun kita berada.

Sering Semar digambarkan dalam goresan kaligrafi Jawa. Dimana dalam tulisan kaligrafi tersebut dapat terbaca, ‘Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan mardika’.

Filosofi Semar dalam kaligrafi ini mengarah pada kemerdekaan jiwa dan sukma. Bahwa manusia layak hidup tanpa dijajah oleh hawa nafsu keduniawiannya. Sehingga ia bisa mangkat atau meninggalkan dunia tanpa dikotori oleh dosa.

Arti Nama dan Filosofi Semar

Filsafat Jawa mengenal tokoh Semar dengan nama Ki Badranaya. Nama Badranaya ini terbentuk dari dua kata, yaitu ‘bebadra’ yang artinya ‘membangun sarana dari dasar’ dan ‘naya’ atau ‘nayaka’ yang artinya adalah ‘utusan mangrasul’.

Sehingga nama Ki Badranaya menunjukkan bahwa Semar merupakan pengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Tuhan demi kesejahteraan manusia. Nama Semar juga dikatakan berasal dari perkataan ‘haseming samar-samar’, yang dapat dimaknai sebagai penuntun makna kehidupan.

Wayang Semar, yang seyogyanya bukanlah lelaki dan bukan pula perempuan, mengajarkan bahwa manusia perlu berserah diri secara mutlak kepada Tuhan. Ajarannya ini ditunjukkan lewat posisi tangan kanannya yang selalu menuding ke atas dan tangan kirinya yang tersimpan di belakang.

Sedangkan rambut Semar sengaja ditata dalam bentuk kuncung untuk menyampaikan ‘akuning sang kuncung’. Artinya adalah sebagai kepribadian pelayan. Semar menempatkan dirinya sebagai pelayan umat, melayani tanpa pamrih untuk melaksanakan ibadah sesuai perintah Tuhan.

Filosofi Semar dan Pelet Pengasihan Tanah Jawa

filosofi semar dalam filsafat jawaNah, bila memang filosofi Semar sedemikian erat dengan unsur-unsur ketuhanan, mengapa kini nama Semar lebih banyak terdengar di ranah pelet pengasihan?

Sebenarnya bukan baru belakangan ini saja. Semar memang memiliki kharisma tersendiri yang menjadikannya sosok teladan. Secara rupa ia tidak lantas memenuhi semua standar konvensional masyarakat Jawa. Tetapi entah bagaimana ia memiliki pesonanya sendiri. Sehingga ia dipercaya, didengar dan dikasihi.

Inilah hasil yang dikehendaki oleh para pengamal ilmu pengasihan. Dan bisa jadi inilah mengapa banyak sarana pengasihan menyandang nama Semar, termasuk Jimat Keris Semar Kuning.

bulu perindu sukma

Bacaan Paling Dicari: