Falsafah Jawa – Nrimo Ing Pandum

Nrimo ing pandum merupakan ungkapan yang tidak asing bagi orang Jawa. Bahkan orang diluar kultur Jawa pun mungkin sudah banyak yang mendengarnya. Tiga kata ini begitu mudah diucapkan, tetapi ternyata tidak gampang dilaksanakan.


Apa itu Nrimo Ing Pandum?

Secara harfiah, arti Nrimo Ing Pandum adalah menerima dengan pemberian. Kata lain yang dapat menerangkan maknanya secara garis besar adalah ‘legawa’ atau ikhlas. Kedengarannya memang mudah, tetapi nyatanya falsafah Jawa ini seringkali sulit dijalankan.

Dalam menghadapi lika-liku kehidupan, orang Jawa diajarkan agar selalu ikhlas dan menerima. Bermurah hati terhadap sesama dan tidak menggerutu atas apa-apa yang tidak dimilikinya. Mensyukuri apa yang ada. Berterima kasih dengan ikhlas dan rela.

Bagi mereka yang telah berhasil menyelami makna filosofi ini, tidak akan ada lagi kata iri. Atau menyesal. Apalagi dengki. Karena dengan menerima apa yang menjadi milik mereka, maka tidak akan lagi orang tersebut mengharapkan apa yang bukan menjadi haknya.

Nrimo artinya menerima. Maksudnya adalah menerima segala pemberian, baik yang berasal dari sesama manusia maupun yang berasal dari Tuhan. Baik ataupun buruk, kurang ataupun lebih. Sesepuh orang Jawa selalu mengajarkan bahwa ujian hidup hendaknya dipandang sebagai kelebihan. Meskipun dalam proses melewatinya memang tidak gampang.

Ujian-ujian tersebut akan menampakkan, apakah kita mampu menjadi pribadi yang bersyukur atau tidak. Bisa merendahkan hati atau justru menyalahkan orang lain atas ketidaknyamanan yang kita alami. Dalam hal kekurangan apapun, sudah sewajarnya kita bersabar dan tabah.

Apakah Nrimo Ing Pandum Sama Artinya dengan Pasrah?

Tidak. Falsafah ini mengajarkan kita agar menyadari apa yang diberikan kepada kita. Dengan ikhlas dan lapang dada, sesuai kemampuan kita sendiri. Bukan lantas berpangku tangan dan memasrahkan diri tanpa berusaha. Itu namanya bukan ikhlas, tapi malas.

Terimalah apa yang dianugerahkan kepada kita. Lalu usahakanlah agar apa yang kita terima tersebut dapat berlipat ganda. Lewat kerja keras, tentu saja. Serta kesadaran bahwa tidak ada hal baik yang mungkin datang begitu saja, tanpa kita mengusahakannya.

puter giling