Cara Orang Jawa Merangkai Nama

Orang Jawa punya cara untuk merangkai nama. Rangkaian nama ini cenderung sederhana, karena memang dimaksudkan agar mudah diingat. Serta mudah diucapkan. Tetapi meski demikian, makna baik tetap diterapkan dalam pemberian nama tersebut.


Merangkai Nama Bayi Jawa

Pemberian nama bayi biasanya dilakukan dengan memakai kata dasar. Kata dasar ini kemudian ditambah awalan, sisipan atau akhiran. Diantaranya:

  1. Awalan ‘su-‘

Awalan ini terbilang merupakan awalan nama yang paling banyak dipakai oleh orang Jawa. Baik laki-laki maupun perempuan. Makna awalan ini adalah baik, sangat, lebih atau paling.

Contoh penerapannya:

  • Su ditambah Bingah menjadi Subingah, artinya ‘selalu bergembira’
  • Su ditambah Urip menjadi Surip, artinya ‘hidup yang lebih baik’
  • Su ditambah Bekti menjadi Subekti, artinya ‘sangat berbakti’
  • Su ditambah Harto menjadi Suharto, artinya ‘paling berharta’
  • Su ditambah Bagyo menjadi Subagyo, artinya ‘paling bahagia, lebih bahagia, sangat bahagia’
  • Su ditambah Praba menjadi Supraba, artinya ‘cahaya yang baik, paling bercahaya, lebih bercahaya’
  • Su ditambah Warta menjadi Suwarta, artinya ‘kabar baik’
  1. Akhiran ‘-ta’ dan ‘-ti’

merangkai-nama-bayi-jawa

Akhiran –ta dipakai pada nama laki-laki, sedangkan –ti dipakai untuk nama perempuan. Khusus kata-kata yang tidak bisa secara langsung ditambah –ta atau –ti, maka akhirannya menjadi –anta dan –anti.

Akhiran ini sekedar dipakai untuk membedakan jenis kelamin pemilik nama saja.

Contoh penerapan:

  • Cahya ditambah –ti menjadi Cahyati
  • Karya ditambah –ta menjadi Karyata (Karyoto)
  • Karya ditambah –ti menjadi Karyati
  • Juni ditambah –anta menjadi Junianta (Junianto)
  • Juni ditambah –anti menjadi Junianti
  • Suma ditambah –anta menjadi Sumanta (Sumanto)
  • Suma ditambah –anti menjadi Sumanti
  • Harta ditambah –anta menjadi Hartanta (Hartanto)
  • Harta ditambah –anti menjadi Hartanti
  1. Akhiran ‘-ana’ dan ‘-ani’

Akhiran ‘–ana’ dibaca juga ‘-ono’, merujuk pada nama laki-laki. Sedangkan akhiran ‘-i’ atau ‘-ani’ digunakan pada nama perempuan.

Contoh penerapan:

  • Setyo ditambah –ono menjadi Setyono, artinya ‘lelaki yang setia‘
  • Setyo ditambah –ani menjadi Setyani, artinya ‘perempuan yang setia’
  • Suryo ditambah –ono menjadi Suryono, artinya ‘lelaki matahari’
  • Surya ditambah –ani menjadi Suryani, artinya ‘perempuan matahari’
  • Marto ditambah –ono menjadi Martono, artinya ‘lelaki yang rendah hati’
  • Marta ditambah –ani menjadi Martani, artinya ‘perempuan yang rendah hati’
  • Padma ditambah –ono menjadi Padmono, artinya ‘bunga’ (maskulin)
  • Padma ditambah –ani menjadi Padmani, artinya ‘bunga’ (feminin)
  • Karya ditambah –ono menjadi Karyono, artinya ‘laki-laki yang suka berkarya’
  • Karya ditambah –ani menjadi Karyani, artinya ‘perempuan yang suka berkarya’
  • Wahyu ditambah –ono menjadi Wahyono, artinya ‘anugerah anak laki-laki’
  • Wahyu ditambah –ani menjadi Wahyuni, artinya ‘anugerah anak perempuan’
  1. Akhiran ‘-adi’ (untuk laki-laki)

Makna akhiran –adi adalah ‘baik’, biasanya digunakan pada nama anak laki-laki. Kata Adi sendiri bisa digabung dengan kata dasar lain sebagai akhiran, juga bisa berdiri sendiri sebagai nama.

cara-merangkai-nama-bayi-jawa

Contoh penerapan:

  • Karya ditambah –adi menjadi Karyadi, artinya ‘karya yang baik’
  • Harta ditambah –adi menjadi Hartadi, artinya ‘harta yang baik’
  • Surya ditambah –adi menjadi Suryadi, artinya ‘cahaya atau matahari yang baik’
  • Mukti ditambah –adi menjadi  Muktadi, artinya ‘bahagia dengan cara yang baik’
  • Priya ditambah –adi menjadi Priyadi, artinya ‘lelaki yang baik’
  • Kurnia ditambah –adi menjadi Kurniadi, artinya ‘karunia yang baik’
  • Sukma ditambah –adi menjadi Sukmadi, artinya ‘jiwa yang baik’
  • Purwa ditambah –adi menjadi Purwadi, artinya ‘awal yang baik’
  • Darma ditambah –adi menjadi Darmadi, artinya ‘pemberian yang baik’
  • Jaya ditambah –adi menjadi Jayadi, artinya ‘kemenangan yang baik’
  1. Akhiran ‘-sih’ (untuk perempuan)

Akhiran ‘-sih’ merupakan penggalan dari kata ‘asih’ yang bermakna sayang. Contoh penerapannya:

  • Mulat ditambah asih menjadi Mulatsih, artinya ‘melihat dengan penuh kasih’
  • Sedya ditambah asih menjadi Sedyasih, artinya ‘niat dengan penuh kasih’
  • Sunar ditambah asih menjadi Sunarsih, artinya ‘cahaya kasih’
  • Setya ditambah asih menjadi Setyasih, artinya ‘setia kasih’
  • Widhi ditambah karsa ditambah asih menjadi Widhiarsih, artinya ‘atas kehendak kasih Tuhan’
  1. Akhiran ‘-ningsih’ (untuk perempuan)

Kata asih atau akhiran ‘-sih’ juga bisa digabung dengan akhiran ‘-ning’. Akhiran ini berasal dari kata wening yang artinya bening atau suci. Selain itu, akhiran ‘-ning’ juga bisa berarti ‘ada di’, sebagai gabungan dari kata ana dan ing.

Contoh penerapan:

  • Arga ditambah –ningsih menjadi Arganingsih, artinya ‘memiliki watak seperti gunung, jernih dan penuh kasih’
  • Badra ditambah –ningsih menjadi Badraningsih, artinya ‘rembulan yang bening dan penuh kasih atau kasih rembulan’
  • Cahya ditambah –ningsih menjadi Cahyaningsih, artinya ‘cahaya yang bening dan penuh kasih atau cahaya penuh kasih’
  • Dwija ditambah –ningsih menjadi Dwijaningsih, artinya ‘pertapa yang bening hatinya dan penuh kasih’
  • Eka ditambah –ningsih  menjadi Ekaningsih, artinya ‘anak pertama yang bening penuh kasih’ atau ‘anak pertama dalam kasih’
  • Puspa ditambah –ningsih menjadi Puspaningsih, artinya ‘bunga yang penuh kasih atau bunga dalam kasih’
  1. Akhiran ‘-ningtyas’, ‘-ningrum’ dan ‘–ningdyah’ (untuk perempuan)

Akhiran ‘-ning’ juga bisa digabung dengan kata tyas yang berarti hati, kata arum yang berarti harum atau kata dyah yang berarti perempuan.

Contoh penerapan:

  • Cahya ditambah ning ditambah arum menjadi Cahyaningrum, artinya ‘cahaya yang jernih dan harum’
  • Cahya ditambah ning ditambah tyas menjadi Cahyaningtyas, artinya ‘cahaya yang jernih dari hati atau cahaya dari hati’
  • Cahya ditambah ning ditambah dyah menjadi Cahyaningdyah, artinya ‘cahaya jernih dari seorang perempuan’
  • Marga ditambah ning ditambah tyas menjadi Marganingtyas, artinya ‘jalan menuju hati yang jernih‘ atau ‘jalan menuju hati’
  • Praba ditambah ning ditambah arum menjadi Prabaningrum, artinya ‘sinar yang bening beraroma harum’ atau ‘sinar dalam keharuman’
  • Asri ditambah ning ditambah dyah menjadi Asriningdyah, artinya ‘perempuan yang berhati bening dan membawa kesejukan’
  1. Akhiran ‘-nem’ dan ‘-yem’ (untuk perempuan)

Masyarakat Jawa pada masa lampau sering memberi nama anaknya dengan sangat sederhana. Misalnya dengan akhiran ‘-nem’ yang bermakna enam, genap atau waras. Atau juga akhiran ‘-yem’ yang bermakna tenteram, damai dan bahagia. Dua nama ini lebih banyak ditemui pada nama-nama gadis dari pedesaan.

Contoh penerapan:

  • Wage ditambah –nem menjadi Waginem, artinya ‘orang yang waras lahir di hari Wage’
  • Wage ditambah –yem menjadi Wagiyem, artinya ‘orang bahagia yang lahir di hari Wage’
  • Legi ditambah –nem menjadi Leginem, artinya ‘orang waras yang lahir di hari Legi’
  • Legi ditambah –yem menjadi Legiyem, artinya ‘orang bahagia yang lahir di hari Legi’
  • Ngat ditambah –nem menjadi Ngatinem, artinya ‘orang waras yang lahir di hari Minggu (=ahad/ngat)’
  • Sulih ditambah -yem  menjadi Suliyem, artinya ‘wakil atau pengganti orang yang bahagia’

Demikian semoga dapat menjadi wawasan.

ayat seribu dinar

Bacaan Paling Dicari: