Asok Tukon, Apa Artinya Dalam Tradisi Perkawinan Jawa?

Asok Tukon adalah salah satu prosesi dalam tradisi perkawinan Jawa. Dalam prosesi ini, pihak calon pengantin pria memberikan sejumlah uang kepada keluarga calon pengantin wanita.


Apa Itu Asok Tukon?

Asok artinya membayar, sedangkan tukon berarti pembelian. Asok Tukon adalah sejumlah uang yang diserahkan calon pengantin pria, kepada keluarga calon pengantin wanita.

Secara harfiah, arti prosesi ini memang jual beli. Tetapi tujuannya bukan untuk membeli istri. Bukan juga untuk menilai seorang perempuan dengan sejumlah materi.

Makna sebenarnya adalah penghormatan. Semacam wujud terima kasih yang disampaikan pihak mempelai pria, kepada calon mertua yang telah mengijinkan putrinya dipinang secara sah.

Sejumlah uang yang diserahkan tersebut biasanya dipakai untuk meringankan ongkos pernikahan. Karena umumnya upacara pernikahan beserta perayaannya memang diselenggarakan di kediaman mempelai wanita. Ada juga yang menganggap asok tukon sebagai pengganti atas biaya pendidikan calon pengantin wanita, beserta biaya perawatannya selama masih bersama orang tua.

Nilai Asok Tukon

Jumlah yang diberikan dalam prosesi ini tidak ditentukan. Sebagian orang hanya menyesuaikan berdasarkan kebiasaan di tempat tinggalnya masing-masing. Disesuaikan pula dengan kemampuan calon mempelai pria. Karena pada dasarnya, tidak pernah ada konsep dimana seorang perempuan dijual oleh orang tuanya sendiri.

Asok Tukon berbeda dari mas kawin atau mahar. Berbeda pula dari paningset atau seserahan. Bedanya, dana diserahkan kepada orang tua mempelai wanita. Sedangkan mas kawin diberikan kepada pengantinnya. Penyerahan asok tukon ini dijadikan sebagai penanda diserahkannya tanggung jawab atas si gadis, dari pihak keluarga kepada sang mempelai pria.

Selain uang tunai, beberapa ubarampe lain yang turut disertakan adalah sanggan, satu set busana untuk mempelai wanita, oleh-oleh dari beras ketan dan kain batik untuk kakek atau nenek sang mempelai. Oleh orang Jawa, kain batik yang diperuntukkan khusus kakek dan nenek ini disebut pesing.

Asok Tukon idealnya dilaksanakan setelah lamaran dan sebelum seserahan. Namun makin hari makin banyak yang menyelenggarakannya berbarengan dengan paningset, seserahan atau pada malam midodareni. Pertimbangannya antara lain adalah efisiensi waktu dan kepraktisan, selama tidak mengurangi makna prosesi adat ini.

jimat pelarisan

Bacaan Paling Dicari: