Ajian Asmaragama – Pembentukan Moral Lewat Hubungan Seksual

Ilmu asmara (ajian asmaragama) diajarkan pula dalam Serat Nitimani. Karya sastra ini ditulis oleh R. M. H. Sugonda pada tahun 1892.


Ajian Asmaragama dalam Serat Nitimani

Budaya Jawa mengajarkan bahwa untuk menghasilkan sesuatu yang baik, maka proses awal penciptaan juga harus baik pula. Serta direstui oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Demikian halnya dengan penciptaan keturunan. Untuk mendapatkan keturunan yang baik, maka kehadirannya di dunia harus diawali dengan niat yang tepat, serta pengetahuan yang benar dalam berhubungan seksual.

Pengetahuan ini penting, karena berkaitan dengan kehidupan baru yang nantinya diciptakan. Apabila dari awal prosesnya sudah salah, maka buruklah akibat yang ditimbulkan. Bukan hanya bagi si jabang bayi yang bersangkutan, tetapi juga bagi keseimbangan hidup bermasyarakat secara umum.

Kesalahan dalam proses hubungan seksual ini disebut dengan istilah kama salah. Untuk mencegah kesalahan ini, maka tata cara berhubungan badan perlu dipelajari bagi mereka yang berniat untuk melestarikan keturunannya.

Serat Nitimani sendiri menuliskan bahwa hubungan seksual yang baik adalah bagian dari pembentukan moral yang luhur. Contohnya seperti yang nampak dalam kutipan-kutipan berikut:


“Yen cecegah, den betah gonira ngampah, nganggah-anggah, yeku pakarti luamah.”

Artinya:

“Cegahlah nafsu birahi yang meluap-meluap tak terkendali karena itu tindakan bengis.”


 “Lamun harda, sampun dadra murang krama, mrih widada, pakartine kang utama.”

Artinya:

“Ketika keinginan datang, jangan meninggalkan aturan etika, itulah perbuatan luhur.”


 “Lamun tandhing, marsudya ing tyas ening, namrih ering, kang supadi tan kajungking.”

Artinya:

“Ketika bertanding, berusahalah untuk tenang dan kalem, agar ingat dan tidak kalah.”


 “Yen anglaras, penggagas aja sampun kabrangas, dimen awas, ing pamawas datan tiwas.”

Artinya:

“Ketika menikmati, jangan sampai lena, tetap terkendali biar pikiran dan nurani tidak mati.”


 “Lamun gela, jroning nala sampu daga, sengadiya, langkung condong ing wardaya, pamrihira, kang pinanduk tan legawa.”

Artinya:

“Apabila tidak puas, dalam hati jangan kecewa, terimalah dengan kesabaran agar tidak terulang lagi.”


Masyarakat Jawa juga percaya pada doa dan mantra yang dirapalkan menjelang berhubungan seksual. Kaitannya dengan Ajian Asmaragama, tata krama berhubungan ini layak dinilai sebagai sarana untuk mengetahui asal mula manusia. Dengan harapan, mereka yang mengetahui asal usulnya akan memiliki tujuan hidup untuk berperilaku harmonis dan sempurna.

Para leluhur memang menganggap seks sebagai sesuatu yang sakral. Serta erat kaitannya dengan bukti kekuasaan Tuhan, sebagai jembatan menuju kehidupan yang baru. Di jaman sekarang ini, paling tidak apa yang ditinggalkan nenek moyang tersebut dapat menjadi wawasan yang berguna.

Bacaan Paling Dicari: