Abangan, Santri, Priyayi – Tiga Golongan Masyarakat Jawa

Masyarakat Jawa dapat digolongkan menjadi tiga, yakni Abangan, Santri, Priyayi. Tiga golongan ini dituangkan Clifford Geertz dalam The Religion of Java (1960).


Mengenal Istilah Abangan, Santri, Priyayi

Ketiga istilah ini (abangan, santri, dan priyayi) mulai hangat diperbincangkan sejak terbitnya buku The Religion of Java. Penulisnya, Clifford Geertz, merupakan seorang ahli antropologi Amerika Serikat yang banyak dikenal lewat penelitian seputar agama, perkembangan ekonomi, struktur politik tradisional dan kehidupan desa serta keluarga.

The Religion of Java (atau diterjemahkan menjadi Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa) berasal dari disertasi Geertz, yang penelitiannya dilakukan di Jawa antara tahun 1952 hingga 1954.

santri-abangan-priyayi-tiga-golongan-masyarakat-jawa

Nah, apa itu kelompok Santri, Abangan, dan Priyayi?

Kaum Santri adalah mereka yang mengamalkan ajaran Islam sesuai syariat (ortodoks). Sedangkan kaum Abangan menjalankan Islam dalam versi yang lebih sinkretis (mengikuti kepercayaan adat dan tradisi). Adapun kaum Priyayi adalah mereka yang dianggap memiliki tingkat sosial lebih tinggi (bangsawan).

Tiga penggolongan ini memang tidak sepenuhnya tepat. Karena status priyayi dan non-priyayi ditentukan berdasarkan garis keturunan. Sementara pengelompokan santri dan abangan lebih didasarkan pada kecenderungan beragama. Nyatanya, ada bangsawan (priyayi) yang santri dan ada pula bangsawan yang berhaluan abangan. Bahkan non muslim.

Dinamika sosial yang kemudian terjadi menunjukkan bahwa diantara ketiga golongan tersebut kerap terjadi konflik, termasuk konflik ideologi, konflik kelas dan konflik politik.

Konflik Ideologi

Kaum Abangan menganggap para Santri sebagai kaum yang merasa memiliki moralitas paling suci. Berpakaian serba santun dan agamis, tetapi diam-diam tetap berzina. Membuang-buang uang untuk berangkat haji, padahal niat mereka bukan untuk beribadah. Tetapi sekedar ingin lebih dihormati karena status ‘haji’nya.

Tak jauh beda, kaum Priyayi pun menganggap kebanyakan Santri sebagai golongan yang terlalu munafik dan kurang toleran.

Di lain pihak, kaum Santri sendiri menuduh kelompok Abangan sebagai penyembah berhala. Sekaligus menganggap para Priyayi menempatkan diri mereka sebagai Tuhan. Banyak diantara para Santri ini yang cenderung meyakini bahwa siapapun di luar kelompoknya adalah komunis.

Konflik Kelas

Para bangsawan (priyayi) menilai kaum Abangan tidak tahu diri, sehingga mengganggu keseimbangan bermasyarakat. Mereka menganggap bahwa Priyayi berkedudukan lebih tinggi, sehingga sangat keberatan bila kaum Abangan (yang mayoritas hanyalah petani) meniru gaya hidup mereka.

Baru sejak kedatangan penjajah Jepang, kaum Abangan mulai menyuarakan persamaan hak dan status sosial. Terlebih lagi ketika itu tidak ada lagi orang kuat dari kalangan Priyayi yang muncul sebagai tokoh masyarakat.

Konflik Politik

Konflik politik cenderung mempertajam konflik keagamaan. Awalnya hanyalah kekosongan kekuasaan. Tetapi dari kekosongan kekuasaan tersebut, semua aspek kehidupan sosial ikut terseret. Sehingga agama pun dibawa-bawa, padahal yang sebenarnya terjadi adalah persoalan politis saja.

Bila ditimbang lebih lanjut, ketiga penggolongan ini di jaman sekarang memang sudah tidak sehat lagi. Tanpa sadar, keberadaan tiga istilah kaum tersebut (Santri, Abangan, Priyayi) justru membuat kita menempelkan label yang tidak perlu. Membuat kita tanpa sengaja mengkotak-kotakkan sesama manusia. Padahal sebagaimana kita berhak meyakini sesuatu, maka seharusnya orang lain juga berhak untuk tidak meyakini hal tersebut.

Dengan begitu, kita bisa hidup tenteram dalam kebersamaan.

susuk samber lilin

Bacaan Paling Dicari: